Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXXVII)

Perkebunan sawit yang baik adalah kebun yang memiliki pohon sawit yang sehat, produktif berbuah, dan memiliki butiran buah yang besar-besar dalam setiap tandannya. Itulah yang akan menghasilkan minyak berlimpah dan mendatangkan keuntungan buat pemiliknya. Persoalannya adalah bagaimana merawat dan menjadikan pohon sawit yang sehat dan subur berbuah lebat?

Perkebunan sawit selalu membutuhkan banyak pekerja karena pekerjaanya yang bersifat padat karya. Dibutuhkan pekerja untuk memupuk, membersihkan kebun, memanen buahnya setiap hari, dan pekerja yang bertugas menyerbuki buah sawit agar bisa berbuah. Biasanya, untuk pekerjaan yang terakhir dilakukan oleh kaum ibu. Kegiatan penyerbukan itu dikenal dengan istilah assisted polination, penyerbukan yang disengaja. Kegiatan penyerbukan itulah yang mendatangkan uang bagi kaum ibu untuk menopang kebutuhan dapurnya, sehingga pada kurun tahun 1970-an sampai dengan awal tahun 1980-an banyak ibu bekerja di kebun-kebun sawit. Ibu-ibu itu menyerbuki pohon yang berumur tiga tahun sampai enam tahun. Mereka mengunakan alat yang menyerupai ujung sapu, dimana serbuk diletakan. Tapi peran mereka tak berlangsung lama.

Kisahnya berawal di Malaysia. Mahbob Abdullah, seoarang menejer kebun Kluang milik Uniliver, mengisahkan bagaimana muasal bagaimana mengunakan kumbang di Malaysia yang kemudian juga digunakan di Indonesia. Jauh sebelum kumbang digunakan untuk menyerbuki bunga betina, penyerbukan dilakukan dengan cara manual. Menyebarkan sebuk bunga jantan dengan bantuan para pekerja perempuan. Namun, hasilnya kurang maksimal.

Sumber : Derom Bangun

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like