Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLVIII)

Setelah berputar-putar beberpa waktu lamanya diatas Lautan Hindia di sekitar Singkil, kami pun berhasil menemukan tongkang tersebut. Ternyata penarik tongkang itu sudah bisa kembali menderknya, kelihatan bergerak dari tengah laut menuju muara sungai. Lega rasanya. Dari atas saya melihat mereka melambai-lambaikan tangannya, tanda keadaaan bisa diatasi. Kami mendarat dikebun Lae Butar, mengabari manajemen kenbun Christoph Siregar,  bahwa tongkang sudah aman dan meminta dia untuk mengabari keluarga petugas tongkang itu bahwa bahwa tongkang sudah ditemukan selamat. Paling lama dua belas jam kemudian, keesokan harinya, mereka sudah bisa pulang kerumah.

Tugas selesai dilaksanakan. Giliran kami terbang pulang. Hari sudah hampir gelap dan cuaca buruk betul. Tapi kami harus tetap terbang pulang. Pedoman dipesawat hanyalah kompas yang menggantung di atas kokpit. Selai kompas, ada pula altimeter untuk mengukur ketinggian. Selain dua alat itu, kami mengandalkan petunjuk arah pada komunikasi yang tersambung dengan menara pengawas Medan.
Dalam keadaan seperti itu kami harus memperhatikan posisi dua gunung, yakni Gunung Sinabung dan Gunung Sibanyak. Gunung Sinabung menjulang setinggi 7.500 kaki, sementara Gunung Sibanyak 6.500 kaki. Pesawat yang kami gunakan saat itubelum Cessna Golden Eagle 421, melainkan Cessna tipe 337 yang kabinnya tak bertekanan. Jadi, apabila pesawat ini dibawa pada ketinggian lebih dari 9.000 kaki, udara didalam kokpit akan menipis, sama seperti udara diluar pesawat yang menyebabkan napas agak sesak. Mau tidak mau kami  harus menempuh risiko terbang melintas celah kedua gunung itu. Kalau cuaca baik, lintasan diantara kedua gunung ini terlihat indah. Kota Berastagi dengan bukit Gundaling tampak di kaki Gunung Sibanyak dan Danau Lau Kawar tertengger di lereng Gunung Sinabung. Kampung Puyung, tempat kelahiran saya, juga dilewati. Bebeapa kerabat saya selalu bercerita mereka bisa tahu kalau saya sedang terbang ke Lae Butar. Mereka mengqaku mengenal pesawat Socfindo.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like