Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLVI)

Kami beruntung hari itu. Ada pesawat lain yang tidak seberuntung kami dalam menghadapi cuaca diatas pantai barat Sumatera itu.  Beberapa minggu setelah pendaratan di kebun Seumayan itu kami kembali terbang dan mendapat laporan tentang jatuhnya pesawat terbang yang ditumpangi beberpa tokoh pengusaha terkemuka di Aceh, salah satunya H. Banta Ali, pemimpin Aceh kongsi, bersama tiga stafnya. Penumpang lain adalah H. Muhamad Jusuf Bachroedin. Anakanya, Joefly J. Bachroeny, adalah teman saya yang menjadi Ketua GAPKI periode 2009-2012.

Hari itu, 3 Agustus 1970, pukul 11 pagi, langit pantai barat tampak cerah. Cuaca disini memang tak menentu, seperti beberapa minggu sebelumnya. Selagi kami terbang di atas itulah kabar datang dari menara pengawas Medan bahwa ada pesawat yang menghilang dalam lintasan yang sama dengan kami. Kapten Sutrisno bilang kepada saya bahwa sebelum kami melintas ada pesawat yang hilang. Ia mengusulkan barang kali kami bisa membantu mencarinya, mana tahu pesawat naas itu berada tak jauh dari kami.

Kami pun berputar-putar diatas gunung Leuser, membantu mencarinya karena hari itu cuaca cerah. Pesawat yang hilang itu juga berangkat dari Medan menuju Seumayam. Mungkin mereka menghadapi cuaca buruk yang terjadi selama beberpa jam sebelum kami melintasi jalur yang sama. Kami mencoba menyusuri belantara dibawah kami, barang kali ada tanda-tanda dari posisi pesawat yang hilang. Namun kami tak berhasil menemukannya.

Sumber : Derom Bangun

4 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like