Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLV)

Keadaaan semakin menegangkan ketika Kapten Sutrisno kebingungan mencari arah pendaratan. Jelas bahwa kami sudah berada di atas kebun Seumayam karena yang terlihat dibawah kami semuanya pohon kelapa sawit, bukan belukar. Ketika itu belum ada perkebunan sawit lain di sekitarnya.

“Kemana kita, Pak? Lapangannya tidak kelihatan”, katanya.

“Kita keliling saja di atas kebun ini, kita cari”, jawab saya.

Pesawatpun kembali berputar. Tapi awan seperti kapas tipis, putih bersemu kelabu, menghalagi pengelihatan. Karena keadaan tidak berubah, Kapten Sutrisno mengusulkan kembali ke Medan. Saya bilang kita jangan kembali.

“Mas, kita kita cari lagi. Kita cari jaringan rel, rel muntik pengangkut buah sawit, semua rel menuju ke pabrik. Lapangan terbang dekat pabrik”, kata saya mencoba meyakinkan pilot.

Sebagai kopilot dadakan, saya kembali mengusulkan, “Jadi, begitu nanti kita melihat ada rel, kita ikuti relnya. Itu relnya”, kata saya ketika melihat jaringan rel.

Pilot pun mengikuti saran saya. Pesawat berputar, mengikutirel. Kami terbang seperti orang buta, meraba dalam kegelapan. Kami hanya mengandalkan perkiraan rel yang akan membimbing kami ke arah dekat pabrik. Lapangan terletak tidak jauh di sebelah barat pabrik. Mula-mula rel di ikuti ke arah timur. Artinya kompas menunjukan angka 9. Ternyata sampai diujung tidak terlihat pabrik. Pesawat berputar-putar ke arah barat, kompas menunjuk angka 27. Akhinya tampaklah pabrik dan lapangan terbang disebelahnya. Kami berdua menghembuskan nafas panjang. Ketegangan yang terjadi selama beberpa menit itu bisa kami lalui. Setelah berputar dua kali, mendaratlah kami dengan aman.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like