Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLIX)

Tapi, kalau cuaca buruk, terlalu berisiko menempuh cara itu. Kapten Sutrisno pun mengusulkan agar terbang diatas 8.500 dengan risiko napas kurang nyaman karena tekanan kabin mengikuti tekanan diluar. Penerbangan dari Lae Butar ke Medan biasanya ditempuh dalam waktu 32 menit. Setelah pesawat terbang selama 28 menit, saya lihat dibawah. Sebagai kopilot dadakan saya pun memberi tahu pilot.

“Mas, itu sawah, Mas”, kata saya. Maksud saya mengatakan kepada Kapten Sutrisno bahwq gunung itu sudah lewat dan sebaiknya ketinggian pesawat di turunkan. Saya berani mengatakan itu karena saya mengenal gambaran daerah sana, terdiri dari hutan-hutan dan sawah. Sawah itu ada dua tempat, satu didaerah Kutacane dan kedua disebelah timur gunung. Jadi, yang menandakan gunung telah berhasil dilewati.

“Wah, tapi kita nggak yakin sawah di mana itu”, kata Kapten Sutrisno. “Biar kita tinggi saja terus”, katanya lagi meyakinkan saya.

Waktu tempuh 32 menit telah lewat. Itu artinya kami sudah melewati posisi Medan, kalau arah penerbangan tidak melenceng atau begeser. Tetapi kami tidak tahu tahu arah dan kecepatan angin yang bisa membawa pesawat ke arah lain. Memang, Kapten Sutrisno pilot yang sangat berhati-hati kalau terbang. Dia selalu mengisi bahan bakar penuh. Tanpa terasa, karena terus terbang, tiba-tiba awan terbuka dan pemandangan di bawah yang semula awan putih kini berganti laut.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like