Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLIV)

Segera Mas Trisno mengembalikan arah pesawat ke jalur semula. Saat itu bandara di Singapura belum ada di Changi seperti sekarang, melainkan di Paya Lebar. Pesawat kami pun mendarat di pangkalan udara militer Singapura, Seletar namanya.

Mengunakan pesawat Cessna yang bertekanan di kabin jauh lebih nyaman ketimbang pesawat Piper Aztec yang pernah kami gunakan sebelumnya. Berbeda dengan Piper Aztec, dengan Cessna kami berbincang-bincang pada ketinggian diatas 9.000 kaki diatas permukaan laut tanpa harus menderita sesak napas karena udara semakin tipis. Sementara itu, mesin pesawat tetap terus berjalan dengan kendali auto pilot.

Dalam cuaca yang buruk, saya acap kali saya berperan sebagai kopilot dadakan. Cuaca yang tak menentu itu sering kali terjadi di atas pantai barat Sumatera. Pernah juga saya mengalami cuaca buruk dari pagi hari. Waktu itu saya bersama pilot Sutrisno terbang dari medan dengan tujuan kebun Seumayan. Letak kebun ini berada di dekat pelabuhan Blang Pidie, selatan Meulaboh. Beberpa menit sebelum datang di lokasi pendaratan, tiba-tiba cuaca berubah. Kabut dab hujan menutup jarak pandang. Pilot memutuskan berputar-putar di udara (holding), mencari posisi landasan sambil menunggu cuaca membaik. Lapangan perintis yang hanya dilengkapi alat penunjuka arah mata angin (wind sack) itu pun tetap tak tampak dari atas.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like