Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLII)

Dengan pesawat, perjalanan ke lea Butar yang biasanya ditempuh selama dua hari melalui perjalanan darat dari Medan ke Sibolga dan perjalanan laut dari Sibolga ke Singkil bisa ditempuh selama setengah jam saja. Sementara itu, perjalanan ke kebun Seumayam di Aceh Barat memakan waktu 24 jam lebih apa bila ditempuh melalui darat melalui Banda Aceh dan Meulaboh. Tapi dengan pesawat perjalanan panjang itu bisa diringkas menjadi 35 menit saja. Itulah kegunaan penting dari pesawat terbang untuk mendukung tugas di PT. Socfindo.

Tidak jarang saya dan Kapten Sutrisno terbang ke Singapura mengunakan pesawat tersebut. Pesawat perlu mendapatkan perawatan ke Singapura setiap kali menghabiskan waktu 100 jam terbang. Untuk perawatan setiap 25 jam terbang bisa dilakukan di Medan. Tentu saja kecepatannya tidak sama dengan pesawat komersil bermesin jet. Kalau pesawat komersial bisa menempuh waktu satu jam ke Singapura, maka dengan pesawat ini kami menempuh perjalanan dua jam. Pengalaman terbang itu sangat berkesan untuk saya. Bukan karena kemudahan yang diberikan dari perusahaan kepada saya, tapi karena kadang-kadang saya jadi kopilot dadakan yang harus sigap membantu pilot dalam keadaan tertentu.

Saya masih ingat betul prosedur penerbangan yang dilakukan. Biasanya, sebelum terbang, kami terlebih dahulu meminta izin dari Polonia Tower untuk take off. Setelah take off, pada ketinggian diatas 1.500 feet, komunikasi akan beralih ke Medan tower, menara pengawas yang sudah lebih luas jangkauannya. Tak lama kemudian, seiring laju pesawat, dari Medan tower komunikasi pun kami alihkan, melapor kepada menara kontrol udara di Johor Bahru, Malaysia.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like