Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXCVIII)

Menindaklanjuti pertemuan itu dikirimlah ahli geologi keareal pertambangan kami. Saya pun turut mengantarkannya ke lokasi yang harus ditempuh selama berjam-jam dari Medan. Seorang staf Kanwil Pertambangan turut mendampingi kami. Saya bawa mereka ke Btang Natal di Kabupaten Tapanuli Selatan. Namun, mobil sedan hanya bisa samapi di Padang Sidimpuan. Di situ mobil kami tinggalkan dan kami pergi dengan mobil sewaan. Samapi di Muara Soma ada jembatan runtuh sehingga mobil sewaan itu hanya bisa sampai di Muara Soma.

Kami seberangi sungai itu. Diseberang sudah menunggu bus sewaan, Nabana Tour. Bus itu cukup terkenal. Semua orang Tapanuli Selatan tahu. Kalau di Aceh ada PM Toh, dimana ada Nabana Tour. Dengan Nabna Tour itulah kami antar dari Muara Soma sampai ke lokasi pertambangan. Bersama ahli geologi dari Australia dan staf Kanwil Pertambangan, kami menginap disebuah pondok. Ahli geologi Australia itu selanjutnya akan tinggal disana selama 2-3 bulan.

Keesokan harinya saya sendirian didalam bus Nabana Tour. Bus itu mengantarkan saya ke Muara Soma. Hanya ada jembatan kayu sederhana untuk menyebrang berjalan kaki. Samapai diseberang, mobil telah menunggu saya. Waktu itu hari sudah senja, hujan turun rintik-rintik. Mobil yang membawa saya menyelusuri jalan menuju ke Bukit Microwave-disebut demikian karena di situ ada menara relay telepon gelombang microwave.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like