Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXCV)

Untuk beberapa tahun lamanya pabrik bisa berjalan lancar. Namun, beberapa tahun kemudian gerakan demontrasi kenaikan upah mulai marak dilakukan. Apa boleh buat, kami harus mengikuti tuntutan pekerja untuk menyesuaikan dengan keinginan mereka. Seiring waktu berjalan, mulailah ada ketidak keseimbangan dalam arus kas perusahaan. Sebagian besar biaya keluar untuk gaji pekerja. Keuangan perusahaan jadi kurang efisien. Karena perusahaan semakin menurun, maka dengan terpaksa kami tutup. Tapi pasokan komponen ke pabrik perakitan alat elektronik di Malaysia masih bisa berjalan karena mendapat barang dari pabrik di Sungai Patani, Kedah.

Kami tak menyerah. Saya dan Pak Imral mendirikan perusahaan pertambangan. Pada awalnya kami berhubungan dengan perusahaan pertambangan besar di Malaysia melalui Encik Jafar, pejabat di Malaysian Mining Corporaration. Di Jalan Tun Abdul Razak, Malaysia, tapi tidak terlaksana. Akhirnya kami membuat perusahaan sendiri. Sebelum mendirikan perusahaan secara resmi, kami terlibat pembicaraan tentang nama apa yang kelak untuk cikal bakal perusahaan itu.

“Apa nama PT-nya?” tanta Pak Imral.

“PT ini mesti ada nama kita bertiga”, saya bilang.

“Apa?”

“PT. IAB (Imral, Alamria, Bangun). Jadi, saya buat namanya PT. Inersia Atma Brata (IAB),” kata saya kepada Pak Imral.

Alamria Abas membantu saya di PII sebagai anggota pengurus Cabang Sumatera Utara. Dia Insinyur tamatan sebuah Universitas di Australia. Pada saat kami mendirikan IAB, dia juga anggota MPR.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like