Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXCIX)

Sampai disana mobil-mobil kembali berhenti didepan jemabatan kecil. Mobil tak bisa lewat. Ternyata ada truk kecil anjlok , terselip di jembatan yang hampir runtuh. Lagi-lagi saya terperangkap. Dari situ, jarak ke Padang Sidimpuan, tempat mobil saya terparkirmasih jauh. “Apa boleh buat, kalau tinggal disini dengan mobil, tunggu sampai jembatan itu ada perbaikan”, kata saya kepada supir mobil sewaan itu.

Saya pulang dulu. Dia terpaksa menunggu karena mobil tidak bisa ditinggalkannya. Saya menyebrang jalan kaki, diseberang ada bus. Segala amacam campur baur di dalam bus. Penumpang berjejal-jejal. Hawa dalam bus terasa pengap. Diatas mobil suara ayam ribut sekali seperti protes pada empunya. Samapai di Padang Sidimpuan hari sudah malam. Saya diantar mobil pribadi yang setia menunggu ke Medan. Perjalanan memakan waktu delapan jam.

Setelah diteliti oleh ahli geologi dari Australia, mereka tertarik untuk melakukan eksplorasi sehingga dibuat kesepakatan antara kami dan mereka. Mereka pun terus mengirimkan uang untuk pertambangan. Perusahaan Auatralia tersebut mendaptarkan tambang itu di bursa saham. Dari situlah mereka mendapat dana. Sahamnya terus naik. Di bursa hongkong juga sahamnya turut naik.

Sumber : Derom Bangun

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like