Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCVII)

Saya menoleh kepada Jacobus yang sedang mengawasi pekerjaan. Saya suduh cukup akrab dengan dia ketika tugas besama di pabrik Mata Pao. Dia sering bercerita tentang pengalamannya sebagai ,asinis kapal. Kami bahkan sering bergurau sambil mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Ambon dan Manado, walaupun beliau dari Pulau Sangir Talaud. Pandangan saya disambutnya seperti sikap bertanya.

“Eh, ale meski ikut kerja jua. Katong misti bikin pabrik jalan besok pagi”, kata saya tersenyum kepadanya, sembari meniru beberapa logat daerah yang sering dia ucapkan.

Dengan gaya yang selalu bersemangat, dia berkata, “Iyo, boleh juga, tapi beta tara tahu berapa ukuran lood-nya”.

Dia bicara mengenai celah antara as dengan metalan. Lood adalah kata Belanda untuk timah hitam. Lood adalah pelat timah hitam yang lembek, artinya bisa dijepitkan sebagai alat petunjuk untuk mengukur celah antara as dan metalan. Jika masih terlalu tipis, harus di skrap lagi agar mencapai suatu ukuran yang sesuai untuk menjamin pelumasan yang baik. Itulah mata kuliah yang saya berikan di USU. Jadi pertanyaannya bisa saya tangkap dan jawab. Tapi saya tidak mampu menyekrap karena bisa-bisa terlalu dalam. Di skrap dengan halus dan rata seluruh permukaannya.

Baca Juga :   Sah, Menteri ESDM Terbitkan Regulasi Harga Gas US$6/MMBTU

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like