Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXXVII)

Setelah itu, saya minta buatkan gambar rancangan detailnya berdasarkan rencana program tanaman. Misalnya pada 1983 sawit ditanam diareal seluas 2.000 hektar, tahun 1984 seluas 1.000 hektar, tahun 1985 ditambah 1.500 hektar, sehingga saya bisa tahu berapa hektar kebunnya. Berdasarkan luas kebun dan perhitungan jumlah tandan buah itulah saya bisa mengatur seberapa besar pabrik yang diperlukan. Selanjutnya saya intuksikan kepada Sinulingga dan tukang gambar untuk mengambar pabrik. Setelah itu, saya pergi kelapangan untuk menentukan lokasi pabrik. Saya kasih patokan atau bechmark. Dari titik ke titik semuanya ditentukan. Misalnya pagar, pintu masuk, gerbang, jembatan timbang, kantor bangunan ketel, bangunan induk dan tangki timbun. Proses perancangan pembangunan pabrik membutuhkan kejelian dan ketelatenan untuk menghindari kesalahan. Karena sekali salah kecil kemungkinan untuk memugar dan membangunnya kembali. Jika pun bisa, tetntu akan membuang dana yang begitu besar.

Baca Juga :   Castrol Hadirkan Pelumas Mobil LCGC

Proses disen perancangan pabrik memakan waktu kira-kira dua bulan. Bentuk pabrik terkadang sesuai dengan selera pemiliknya. Biasanya pemilik pabrik punya pertimbangan tersendiri. Saya pernah menangani perusahaan yang meminta saya membuat pabrik minyak goreng di dekat Medan. Pemiliknya warga tionghoa. Areal tanahnya sempit. Dia bilang jalan masuknya tidak boleh lurus. Walau tidak tahu alasannya, saya turuti saja. Yang lainnya juga disesuaikan dengan situasi lingkungan dan keinginan pemesan. Jadi, tidak ada pola yang kaku untuk membanun pabrik.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like