Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXXIII)

Banyak orang yang juga berpikir untuk membuka kebun. Ketika saya mendirikan PT. Kinar Lapiga, lahan masih mudah untuk di dapat dari pada sekarang. Lahan tanah jauh lebih sulit untuk di dapat. Kalau pun ada, harganya teramat mahal, dan berdasarkan perhitungan bisnis perkebunan, sulit menjalankan bisnis kebun dengan harga tanah yang melambung tinggi. Tentu dalam ilmu ekonomi dikenal prinsip modal rendah untuk mencapai untung yang layak.

Tapi bukan berarti pemilik lahan kecil tak bisa membuka kebun. Saya selalu mengatakan kepada mereka yang punya lahan dan berencana membuka kebun bahwa kalau kita hanya punya senapan angin, kenapa harus mencari gajah? Gunakan senapan itu untuk menembak burung. Secara perlahan, seiring waktu dan manajemen yang baik, kebun pun bisa diperluas asalkan pandai mengaturnya.

Baca Juga :   Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCXLVI)

PT. Bukit Mas Sawit Subur juga menempati lahan yang tidak terlalu besar. Saya beli kebun itu dari seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Kebun ini pun bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan asalkan manajemennya rapi dan transparan dalam hal keuangan.

Konflik-konflik kepemilikan tanah sering terjadi di Sumatera Utara. Namun, tak jarang terjadi pemilik yang sah dari tanah untuk kehilangan tanahnya hanya gara-gara mendapatkan intimidasi dari kelompok-kelompok tertentu yang mengandalkan kekuatan otot dari pada otak. Logika sudah hilang. Keadaan semakin parah saat hukum tak ditaati dan penegak hukum tak dapat berbuat apa-apa atas semua yang terjadi.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like