Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXXI)

Kebun PT. Tara Bintang Nusa di daerah dekat Pangkalan Brandan. Namun, kabar tentang kucuran kredit dari Bank Kesawan untuk saya dengar ke telinga orang Bank Exim. Lagi-lagi mereka pun berseloroh, “Masa pakai bank swasta, pakai uang kami saja”, kata mereka. Untuk menjaga hubungan baik, saya kembalikan uang Bank Kesawan dan ganti mengunakan kredit dari Bank Exim.

Pembangunan pabrik Kinar Lipiga mengunakan konsultan PT. Tri Upaya. Kendati salah satu pemilik konsultan itu saya sendiri, tidak berarti PT. Tri Upaya bisa mengerjakan pembangunan pabrik sesuka hati. PT. Tri Upaya bekerja sebagaimana layaknya perusahaan konsultan profesional lainnya. Pembuatan feasibility study, perancangan desain pabrik, dan pemesanan mesin-mesin untuk pabrik semua dilakukan oleh konsultan Tri Upaya. Dengan bantuan kredit Bank Exim, berdirilah pabrik itu dan mulai beroperasi awal tahun 1992. Februari pembangunan selesai, bulan Mret 1992 sudah beroperasi, dan bulan April 1992 sudah mulai menjual CPO.

Baca Juga :   Prof. Sri Adiningsih, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Kelapa Sawit Tekan Kemiskinan di Indonesia

Dalam pembukaan perkebunan, bukan berarti semua lancar-lancar saja. Adakalanya saya harus berhadapan dengan kekuasaan. Apalagi saat itu zaman Orde Baru, saat penguasa memiliki pendapat mutlak yang harus dilakukan rakyatnya, tidak terkecuali saya. Hal itulah yang terjadi saat saya membuka kebun PT. Tara Bintang Nusa. Ada konflik kepentingan disana, yang menyeret saya sebagai pemilik sah dari lahan itu.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like