Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXVII)

Terpaksalah semua proses kredit ditangani cepat-cepat. Tentu saja dengan tetap mengacu pada peraturan dan prosedur yang ada. Untunglah notaris Djaidis, S.H. bersedia segera datang, khusus untuk menangani akad kredit kelayakan tadi. Keesokan harinya dana sudah cair. Istri saya mengambilnya, sementara saya terbang menuju Eropa.

Dalam perusahaan, istri saya berperan sebagai direksi. Saya hanya komisaris. Waktu itu gaji direktur saya tentukan hanya Rp. 50.000 per bulan. Tentu jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan gaji direktur pada zaman itu. Dia terima saja. Untuk mendisiplinkan keuangan, saya menetapkan aturan bahwa sejak PT. Kinar Lapiga berdiri, keuangan perusahaan dengan keuangan rumah tangga harus terpisah secara tegas.

Sebagai pegawai lama, yang berasal dari manajemen kebun milik Abubakar Abdi, masih saya pekerjakan di Kinar Lapiga. Kami juga menerima pegawai baru. Manajer yang lama, Usman Asik, berhenti. Namun, pegawai-pegawai tata usaha tetap bekerja di bawah manjemen Kinar Lapiga. Sebagaian yang memasuki masa pensiun dibayar uang pensiunnya. Selain kebun, terdapat juga pabrik pengolahan karet.

Hal kedua yang saya lakukan setelah menerbitkan administrasi dan keuangan adalah menerbitkan cara penderesan karet. Tanpa penerbitan penderesan pohon karet, perusahaan akan terus merugi. Untuk penjualannya, saya turun tangan membantu istri. Waktu itu ada tiga perusahaan karet yang bisa membeli dengan harga baik, yakni PT. Hadi Baru, Lee Rubber Company dan PT. Nusira.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like