Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXVI)

“oh, ini boleh”, kata notaris Ong. Dia setuju dengan nama yang saya berikan itu. Kami pun bernegosiasi. Kemudian mulailah kami urus kebun. Saya tempatkan orang disana untuk menganti pengurusnya yang lama.

Untuk membangun usaha tak mungkin mengunakan uang sendiri, apa lagi jumlahnya tak mencukupi. Oleh karena itu perlu mengunakan dana milik orang lain atau lazim dikenal istilah other peoples,s money. Singkatannya OPM. Oleh karena itu, saya pergi mengunjungi bank. Kebetulan saya kenal baik beberapa pejabat bank di Medan. Perkenalan itu berawal dari kebiasaan bank meminta penilaian saya terhadap proposal kredit bisnis perkebunan yang diajukan kepada bank oleh pihak lain. Mereka sering bilang, “Kalau Pak Bangun sudah bilang bagus, bolehlah”.

Baca Juga :   TATA KELOLA PERKEBUNAN SAWIT DI INDONESIA Studi kasus di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat (Bagian V)

Saat itu saya datang ke Bank Exsim (kini dimerger jadi Bank Mandiri). Saya katakan kepada mereka bahwa saya perlu dana untuk membuka lahan. “ Kami siapkan dananya, tapi hanya kredit kelayakan”, kata pemimpin Bank Exim Cabang Medan, Horas Simatupang, sambil menyebutkan jumlah tertentu.

“Jadi bisa dapat dana kredit kelayakan? Kalau bisa, kasih hari ini?” tanya saya.

“Besok saya ke Eropa”, jawab saya.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like