Iklim usaha sawit yang cerah itu menimbulkan niat buka kebun bagi banyak orang. Saya dengar ada kawan-kawan di PTPN dan Socfindo sendiri yang berniat membuka kebun. Pembicaraan untuk membuka kebun sering terjadi dalam acara PII (Persatuan insinyur Indonesia) dan acara-acara pesta pernikahan. Saya juga mulai berniat buka kebun. Angan-angan saya hanya membuka kebun kecil. Sadar bahwa kemampuan saya sangat terbatas, ukuran yang saya targetkan hanya kebun kecil. Kalaupun jadi, saya hanya ingin memiliki kebun yang luasnya satu persen saja dari kebun Socfindo, saya urus dengan efisiensi yang sama, penghasilannya akan sama dengan satu persen laba Socfindo yang besar itu.

Tentu saja satu persen itu lebih besar dari gaji dan tantieme (bonus) yang saya terima setiap tahun. Kalaupun efisiensinya lebih rendah, tentu masih cukup besar untuk mendukung gaya hidup saya dengan keluarga. Jadi tidak perlu besar-besar. Tetapi banyak teman yang berbicara niat buka kebun 6.000 hektar, bahkan ada yang lebih. Saya ikut juga perbincangan santaiseperti itu. Saya anggap tidak serius dan dengan nada bercanda saya katakan “Kalau yang kita pegang hanya senapan angin, bainya tidak mencari gajah, tapi cukuplah untuk menembak burung”.

Mungkin ada juga yang menangkap pesan itu. Saya sendiri mulai mencari informasi kalau-kalau ada kebun yang mau dijual.Di Sumatera Utara banyak kebun terlantar yang dijual, seperti kebun Kwala Gunung yang dibeli Swandi Kongsie itu. Saya dengar juga kebun Deli Muda ditawarkan oleh pemiliknya. Kebun ini agak besar ukurannya, terletak tidak jauh dari Mata Pao di Kabupaten Deli Serdang. Konon, kebun ini dulu milik Socfin S.A. Karena itu, Socfindo kedengarannya berminat juga. Tetapi karena harga yang diminta terlalu tinggi, kebun ini jatuh kepada calon pembeli lain dari Medan yang sekarang dikenal dengan nama PT. Indah Poncan.

Sumber : Derom Bangun

Share.