Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXVI)

Beberapa tahun sebelumnya saya memutuskan berhenti dari Socfindo, saya selalu bilang kepada istri dan anak bahwa kalau pun di Socfindo ada perlakuan istimewa buat saya, bukan berarti itu posisi aman. Apalagi saya hanya seorang kepala bagian teknik. Karena itu, sejak anak-anak masih kecil, saya tegaskan kepada mereka jangan kaget kalau saya berhenti bekerja. Dan saya membiasakan diri untuk tidak menerima tawaran atau pemberian apa pun dari orang, misalnya ditraktir, mengantar bunga ke rumah bersama istri, mengantar apa pun tidak saya biyasakan. Ada kalanya pernah pula saya “terjebak” makan direstoran karena sudah ada yang meneraktir di sana. Tidak sengaja. Tapi kalau ditawari makan, tidak pernah kami terima. Pokoknya supaya anak-anak jangan kaget kalau hidup berubah draktis.

Untuk menyiapkan diri hidup berdikari tak lagi jadi pegawai, saya sisihkan uang sedikit demi sedikit dan membeli rumah di Jalan Merbabu. Ruko itu saya beli agar bisa dipakai sebagai rumah tinggal pribadi yang juga bisa digunakan untuk kantor. Sebelum mendirikan kebun Kinar Lapiga, saya pernah menggunakan ruko perdagangan.

JADI PEDAGANG KAWAT LAS

Satu kalai ada orang datang kepada saya, namanya Pitono Hombing. Dia sebetulnya agen dari perusahaan di Singapura yang kantor pusatnya di Amerika. Perusahannya, PT. Indofluid, menjual alat mechanical seal bermerek Chesterton. Ini merek terkenal di Amerika. Dia sebenarnya ingin menjual  mechanical seal  ke perusahaan-perusahaan perkebunan, termasuk ke Socfindo. Tapi mechanical seal  ini hanya di pakai pada pompa-pompa moderen, sedangkan pompa-pompa di Socfindo masih banyak pompa piston. Alat mechanical seal mahal. Tapi Pinoto tetap menawarkan komponen pompa itu dengan cara tukar tambah. Namun, saya jelaskan, Socfindo masih belum berminat. Dia berhasil menjual banyak peralatan pompa itu ke Pertamina.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like