Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXV)

SEMANGAT BERDIKARI

Sejak awal bekerja di PT. Socfindo, saya sudah memikirkan langkah kedepan kelak dimasa yang akan datang. Saya punya angan-angan, kelak saya tidak lagi jadi pegawai di perusahaan. Sebagai pegawai, kita harus siap dengan skenario sewaktu-waktu diberhentikan oleh perusahaan. Oleh karena itu, beberapa tahun menjelang keluar dari Socfindo, serangkaian persiapan sudah saya lakukan.

Dalam masa transisi, belum resmi keluar dari Socfindo dan ditempatkan sebagai penasehat direksi, saya diajak serta oleh Ir. Suratin Subur untuk turut bekerja di Pusat penelitian dan Pengembangan Agribisnis (P2PA) di jalan Tanjung Karang, Menteng, Jakarta Pusat. Suratin semula bekerja sebagai Direktur Utama PTPN VI di Sumatera Utara. Ia aamemberikan tugas kepada saya untuk mengoordinasikan pekerjaan yang dilakukan oleh RISPA, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Balai Penelitian Karet di Sungai Putih, Sumatera Utara, dan Balai Penelitian Karet di Sembawang, Sumatera Selatan.

Sebagai teknolog, Suratin berharap saya bisa membantu mengomersialkan hasil-hasil penelitian yang berkenaan erat dengan industri agribisnis itu. Di P2PA saya bekerja sama dua ilmuan terkemuka dibidang agribisnis, yakni Dr. Soepadio dan Dr. Sudarsan. Kegiatan di lembaga penelitian itu memberikan kesan dan pengalaman yang cukup berharga untuk saya. Apa lagi, pada masa kemudian, saya sering diundang menjadi pembicara di hadapan para ilmuan yang tergabung dalam Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI), seperti yang pernah saya alami pada bulan September 2009 atas permintaan Profesor Tien R. Muhtadi. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan makalah “Kebutuhan Litbang pada Industri Kelapa Sawit”. Selesai pertemuan itu seorang ilmuan dari IPB, Prof. Dr. Gumbira Sa’id berseloroh bahwa ceramah saya setara dengan ceramah seorang yang bergelar doktor atau profesor.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like