Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXIX)

Di pabrik-pabrik kita sering menghadapi masalah. Begitu pula bengkel mobil yang sering menghadapi masalah kerusakan poros engkol atau crank shaft. Sudah aus. Dengan kawat las yang bagus, alat itu bisa diperbaiki, tentu harus di buang dan membeli yang baru dengan konsekuensi mengeluarkan lebih banyak uang. Dengan mengunakan kawat las merek UTP, biaya operasional bisa dihemat sampai dengan 40 persen. Karena begitu banyak permintaan dari industri, kawat merek UTP dan Utectic pun saling bersaing.

A.C. Wong bersedia menyediakan barangnya, tetapi ada jumlah tertentu yang harus dibayar dulu. A.C. Wong mendampingi Pitono mengunjungi perusahaan-perusahaan untuk menjelaskan kepada customer, seperti PTP dan Pertamina. Bisnis berjalan lancar. Perusahaan membutuhkan pegawai tambahan untuk mendukung kinerja. Belakangan ditambah tiga orang. PT. Delta Pangestu pun menempati lantai dasar dari ruko di Jalan Merbabu, satu atap dengan PT. Kinar Lapiga yang berkantor di lantai dua. PT. Delta Pangestu terus berkembang dan berkembang. Tidak hanya menjual kawat las, belakangan juga menjual packing merek Filler.

Seiring waktu, para nakhoda perusahaan seperti Pitono makin berumur. Kami sama-sama memutuskan untuk membubarkan. Namun Lengkap adik saya, salah satu pemegang saham, mau mengambil alih perusahaan. Maka dibuatlah perhitungan dan mekanisme pengambilalihan itu. Kita selesaikan semua urusan adminitrasi, termasuk pembagian hasil dari pembelian saham yang dibeli Lengkap kepada masing-masing pemilik, saya dan Pitono. Setelah itu, Lengkap memindahkan kantornya ke Jalan Nibung. Untuk beberapa waktu lamanya dia menjalankan PT. Delta Pangestu bekerja sama dengan A.C. Wong yang sudah menetap di Singapura.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like