Salah seorang pemegang saham PT. Asam Jawa adalah seorang jendral mantan Panglima Brawijaya dari jawa Timur. Waktu saya dipanggil, pabrik ini sudah ada. Awalnya saya tidak bersedia karena mendengar cerita yang kurang bagus mengenai perusahaan ini. Pemiliknya yang terdahulu bertikai. Karena itu, saya tidak ingin terlibat dalam pertikaian itu. Saya khawatir terseret dalam pusaran konflik itu.

Namun, sang pemilik tak mau pindah kelain hati, kecuali kepada saya. Pemilik pabrik itu pun kembali mengirim pesan melalui orangnya, “Sampaikan kepada Pak. Bangun bahwa kita sudah tutup buku lama. Perusahaan saya ini sudah buku baru, tidak ada masalah disini”, ujar jendral itu via anak buahnya kepada saya.

Akhirnya saya temui dia untuk menanyakan kepastiannya bahwa benar tidak ada masalah. Juga untuk merundingkan beberapa fee yang akan dia bayar. Terjadilah kesepakatan, dibuat kontrak bahwa saya akan membuat desain untuk memperbesar kapasitas pabriknya, dari 30 ton menjadi 60 ton per jam, mengawasinya, dan mengujinya. Termasuk menyarankan bagaimana mengatasi kekurangan air di pabrik itu. Kemudian di hari Group Asam Jawa itu juga membuka kebun dan membangun pabrik di Kalimantan di bawah bendra PT. Musi Rawas. Pemilik meminta saya membuatkan desain pabriknya. Saya sangupi. Tapi karena kalimantan itu jauh, jadi hanya staf saya yang kesana. Saya mengurus Sinulingga, Suyono, dan beberpa anggota staf yang lain.

Sumber : Derom Bangun

Share.