Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLI)

Setelah mendarat di Lae Butar, saya naik dan menyapa Kapten Pilot Djoko yang sudah kenal karena pernah juga menjadi pilot Socfindo. Saya duduk di depan, di samping pilot, sedangkan Sutiksno dan istri di ruang belakang. Kami terbang kira-kira pukul 15.00. Sampai di Lae Butar cuaca beranjak buruk. Kami pun nekat terbang. Mendekati Seunagan, cuaca belum juga berubah. Lapangan terbang Seunagan terletak dipingir laut dan sekarang menjadi Lapangan Terbang Tjut Nyak Dien yang dimiliki oleh pemerintah. Saya turut dalam pembanguan lapangan terbang itu ketika masih milik Socfindo sebagai lapangan perintis.

Ketika kami mendekati Seunagan, cuaca ternyata hujan dan awan tebal. Jarak pandang sangat pendek, mungkin sekitar 200 meter. Saya perhatikan Mas Djoko berupaya dengan susah payah mencari lokasi landasan. Saya bantu berikan saran, agar tetap menyelusuri pantai. Dengan Mas Djoko, kami sudah melewati landasan, lalu berputar kembali ke arah selatan. Saya ikut memandang ke segala arah. Saya ingat bahwa dekat landasan ada rumah menajer yang pasti akan terlihat juka kami menyusuri pantai. Juga ada beberpa pohon cemara. Sutiksno dari arah belakang bertanya dengan cemas. Saya jawab bahwa akan dicoba lagi balik ke arah utara.

Pantai jelas sekali terlihat dengan ombak yang memukul, tetapi rumah atau landasan tidak nampak. Selama pesawat bergerak di atas pantai, saya tidak kawatir. Lain lagi urusannya kalau terbang terlalu jauh ke arah timur, itu bahayanya karena ada gunung di sana. Pilot masih mengambil arah utara, sementara mata saya tak pernah lepas mengamati kompas. Kalau angka 33, berarti ke barat laut, sedangkan angka 0 berarti utara. Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like