Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCL)

“Wah sudah di atas laut kita. Sudah jauh melewati Belawan kita”, katanya. “Sudah jauh melewati Belawan”.

“Oke, oke, enggak apa-apa. Yang pasti kita aman”, saya mencoba menenangkannya.

Kapten Sutrisno pun memutar balik pesawat. Perlahan dari atas tampaklah kota Medan. Senang rasanya kami lolos dari lubang jarum. Pelan-pelan pesawat ancang-ancang mendarat. Setelah minta izin landing, kami pun mendarat dengan mulus di bandara.

Kalau Kapten Sutrisno suatu saat berada di Singapura untuk urusan perawatan pesawat, perusahaan bisa menyewa pesawat dari maskapai SMAC (Sabang Marauke Air Charter) atau IAT (Indonesia Air Transport). Pesawat dipiloti oleh yang lain. Tentu tak semantap gaya Kapten Sutrisno kala mengemudikan pesawat.

Suatu hari kami memakai pesawat terbang sewaan. Pesawat yang disewakan tipe Piper Aztec. Saat itu saya berada di Lae Butar. Kali ini mau berangkat ke perkebunan Seunagan dekat Meulaboh. Datanglah pesawat terbang dari Medan menjemput saya di Lae Butar. Di atas pesawat terbang sudah ada Pak Sutiksno dan istri. Ia adalah group manager di PT. Socfindo. Mereka menumpang pesawat itu dari Medan karena hendak pulang kembali ke Seumayam, tempatnya bertugas. Dari Seunagan ke Seumayam, mereka akan diantar mobil karena jaraknya dekat.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like