Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCII)

Sekarang metalan pada mesin Bellis & Morcom pecah dan pabrik lumpuh total. Setelah berpikir sebentar, dengan suara datar saya berkata kepada Jacobus, “Cabut metalan itu. Cari pengantinya di gudang”.

Saya kembali kekantor untuk melaporkan keadaan ini kepada tuan besar (istilah saat itu untuk Bapak Penggurus) dan kekantor besar Medan. Kantor pengurus berada di Aek Loba yang jaraknya 15 kilometer dan dapat dihubungi melalui telepon model engkol. Pabrik ini sendiri berada di pinggir Sungai Asahan di dekat Desa Padang Mahondang. Jadi Pabrik ini berada jauh di luar perkebunan, tetapi dekat dengan sungai yang besar peranannya. Sebagai sumber air dan sarana pembungan air limbah. Lebih pentinglagi sebagai sarana angkutan. Bauah atau tandan buah segar produksi afdeling Padang Pulau yang terletak sekitar 25 kilometer ke arah hulu sungai diangkut dengan tongkang ke pabrik. Praktis dan murah biayanya.

Pengurus menerima laporan saya dengan sedih dan berjanji akan menunda panen sampai mendapatkan laporan lagi. Saya hanya menambahka, “Kami akan kerjaklan siang dan malam supaya selesai secepatnya”.

Ke kantor Medan juga disampaikan laporan dengan harapan bisa dikirim montir dari bengkel induk. Sebenarnya kerusakan seperti ini sudah tergolong masalah besar dan harus ditangani oleh kantor besar dengan bantuan bengkel induk yang merupakan unit tersendiri dengan peralatan komplet dan sejumlah mekanik yang berpengalaman. Tetapi saya tidak sabar menunggu karena perjalanan saja akan memakan waktu delapan jam, belum lagi waktu untuk persiapan keberangkatan. Sering dialami kejadian bahwa mekanik diesel sedang bertugas dipabrik lain karena harus mengurusi sembilan pabrik sawit, empat pabrik sawit dan satu intalasi tangki Belawan.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like