Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCXXVIII)

Bagaimana mungkin saya ke Medan, karena justru besok paginya saya harus membawa rombongan ke Istana, menemui Presiden. Apa boleh buat, saya katakan kepada Lengkap bahwa kita mesti kuatkan hati kita.  Saya bilang kepadanya kalau saya batalkan acara pertemuan itu, tidak bagus juga, tetapi ayah juga sangat penting. Di Medan banyak sanak keluarga. Mungkin ada baiknya masalah itu ditangani dulu sampai acara saya selesai, lalu akan saya kejar kembali ke Medan sore harinya.

Saya juga sarankan kepadanya agar menahan tenaga dokter supaya mengatasi keadaan ayah. Jadi saya putuskan tidak berangkat walaupun, menurut adik saya, ayah betul-betul dalam keadaan krisis.

Dengan berat hati saya memilih untuk tetap di Jakarta bersama rombongan dari Medan, Suhadi Aries, Marzuki Jakob, M.P. Siregar, dan Simpe Garang. Semua anggota PII Sumatera Utara itu merasa terancam kalau ikut dengan saya. Jadi saya keraskan hati, saya tidak berangkat ke Medan , tapi ikut ke Istana. Sebelum berangkat, kami semua dicek, diberangkatkan dengan bus. Pihak panitia telah menyediakan bus di Hotel Indonesia. Semua dimonitor. Semua peserta pertemuan dengan Presiden harus melewati metal detector di Istana. Setelah steril, kami semua dipersilakan masuk.

Sumber : Derom Bangun                                                  

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like