Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCXLIV)

Satu hal yang saya perhatikan, penyejuk ruangan (AC) tidak dihidupkan betapapun panasnya hari itu. Saya belum merasa kepanasan, tapi jelas suhu udara tidak lagi sejuk. Rombongan kami terdiri dari 7-8 orang, yakni Sahat Sinaga dari GIMNI, perwakilan Permata Hijau Sawit Jhony Virgo dan Xafier Francis, kemudian dari PT. Musi Mas, Hung Chi Hua, yang biasanya berkedudukan di Kalula Lumpur turut hadir hari itu, dan dua orang dari Pakistan, yakni dari PVMA dan dari Pakistan Association dan juga pejabat KUAI. Kami diterima ketika jarum jam menunjukan pukul setengah sebelas.

Setelah menunggu, protokol mempersilakan kami duduk di ruangan pertemuan dengan Perdana Menteri. Kami duduk berjajar di sebelah kanan kursi Perdana Menteri Gilliani. Saya belum sempat mempelajari protokol di lingkungan istana-istana Pakistan ini, karena itu saya mengambil sikap mengikuti gerak-gerik atau contoh yang dilakukan oleh pengantar saya yang dari PVAM itu. Dari jurusan lain masuk ke dalam ruangan sekitar sepuluh pejabat tinggi, terdiri dari beberapa menteri dan diantaranya ada wanita yang gerak-geriknya juga yang memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pejabat tinggi. Mereka adalah Amjad Rashid dari PVAM, Minister of Finance Syed Naveed Qamar, Special Assistant to PM, Mrs. Hina Rabbani Khar, Secretary Industries dan Secretary Agriculture.

Kami masing-masing menuju kursi yang ditunjukan. Kursi yang paling dekat dengan Perdana Menteri Gillani diduduki oleh pengantar saya, dua orang dari Pakistan. Kemudian saya sendiri. Di sebelah kanan saya Pak Ibnu dari KUAI dan disebelahnya duduk berurutan Sahat Sinaga, Jhony Virgo, Xavier Francis, dan Ung Hci Hua. Pada sisi lain, di seberang meja duduk pejabat-pejabat tinggi Pakistan. Kami duduk berhadap-hadapan, di pisahkan oleh meja panjang yang rendah. Diatas meja terpajang rangkaian bunga yang rapi. Sumber : Derom Bangun

373 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like