Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCVII)

Ada cerita lucu dalam perjalanan dari hotel ke kantor Kedubes Indonesia. Waktu itu saya dan seorang teman menumpang sebuah taksi. Sepanjang perjalanan saya ngobrol dengan sopir dalam bahasa Prancis. Sopir itu bertanya kepada saya darimana saya berasal. Saya jawab Indonesia. Sontak dia marah marah-marah kepada kami. Saya katakan kepadanya bahwa  saya tidak mengerti apa alasan dia marah-marah. Dia bilang Xanana Gusmao harus dibebaskan. Rupanya sang sopir berasal dari Portugal dan dia bersimpati pada perjuangan Xanana Gusmaonuntuk membebaskan Timor Leste. Saya jawab kepadanya bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya bukan pejabat pemerintah. Namun, sopir tetap tidak mau terima dan mengatakan sampaikan kepada pemerintahmu itu. Saking marahnya, sopir yang sedang berang itu pun menolak uang tip dari saya. Padahal, biasanya, menurut pengalaman saya, sopir taksi di Prancis selalu mengharapkan tips dan akan marah jika tidak diberi tips. Tapi baru kali itu saya tahu bahwa sopir taksi di Prancis bisa juga marah karena politik.

Pada periode 1991-1996, berikutnya saya diangkat menjadi wakil ketua. Ada tujuh wakil ketua termasuk T. Ferdinand Simatupang, Ir. Hennry Huta Barat, Vera Tobing, M. Nafis Daulay, Chair Ali, dan Alamria abas, Salah satunya saya. Ketua Umumnya masih dipegang Imral Nasution. Dalam suatu kesempatan, pernah Kadin Pusat menawarkan kepada Kadin Sumatera Utara untuk mengirimkan utusannya mendampingi delegasi pemerintah ke Swedia dan Finlandia. Saya dan Pak Imral turut dalam rombongan yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Arifin Siregar.

Sumber : Derom Bangun                                                  

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like