Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCIII)

“Oke, saya saja ambil caranya”, kata Pak Imral. Ia sebenarnya dekat dengan Ical, tetapi melalui Tanri Abeng yang dianggap cukup dekat dengan Ical. Tanri Abeng sendiri pada akhirnya tidak menghubungi Ical, melainkan dengan Abdul Latief-pemilik pusat pembelanjaan Pasaraya, Blok M, dan belakangan menjadi Menteri Tenaga Kerja di era pemerintahan Soeharto dan Ponco Sutowo, putra mantan Direktur Utama Pertanian Ibnu Sutowo.

Apa boleh buat, kamipun terima jalan itu. Pak Imral, Alamria Abas, dan saya pergi berunding ke Pasaraya lantai 8 untuk bertemu dengan Abdul Latief. Seusai perundingan, dia mengirim seorang staf ahli dari India ke Medan untuk mempelajari semua masalahnya. Kami pun sepakat untuk menjual tambang itu kepada Abdul Latief tanpa sedikitpun mengambil untung. Cukup harga modal saja. Pembagian sama rata. Semua tiket dan pengeluaran dari setiap perjalanan untuk kepentingan mengurus perusahaan diganti. Selama dua tahun mengurus tambang, disitulah akhir percobaan kami. Dari situ saya mengetahui banyak ihwal seluk beluk dunia pertambangan. Paling tidak, saya telah belajar mengenai pertambangan dan segala aspek yang melingkupinya.

AKTUALISASI DIRI DALAM ORGANISASI

KADIN SUMATERA UTARA

Di mana pun saya beraktivitas, saya selalu berupaya untuk berdedikasi penuh pada tugas yang dibebankan kepada saya. Boleh dibilang saya pensiun dini dari PT. Socfindo dan setelah itu saya jadi “penganggur intelektual” dengan segudang aktivitas diberbagai organisasi. Buat saya, kegiatan organisasi itu pun sama beratnya dengan pekerjaan mencari nafkah. Selama bekerja di Socfindo saya sudah aktif berorganisasi dan setelah resmi keluar perhatian saya semakin terfokus untuk mengembangkan gagasan dan potensi yang ada pada diri saya. Salah satu organisasi yang saya geluti adalah Kadin Daerah Tingkat I Sumatera Utara.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like