Keterlibatan santri dalam usaha pembibitan sawit menuai hasil positif. Melalui pendampingan intensif oleh APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), para santri dan pesantren dapat belajar langsung untuk menjadi penangkar benih. Peluang keuntungan mencapaiRp 200 juta rupiah.

Wapres RI, KH. Ma’ruf Amin menepati janjinya kepada petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Akhir Juli lalu, pengurus APKASINDO berkesempatan untuk berdiskusi dan berbagi informasi kepada Wapres. Salah satunya adalah menyampaikan perkembangan program santri sawit di dua provinsi yaitu Riau dan Kalimantan Barat.

Dr. Gulat Manurung, MP, CIMA, Ketua Umum DPP APKASINDO, menjelaskan perkembangan terbaru program santri preneur sawit melalui kegiatan penyediaan bibit unggul siap tanam untuk program peremajaan sawit rakyat. Di Provinsi Riau, bibit yang ditangkar berasal dari Sinarmas (Damimas), PPKS Medan, Sampoerna Agro (Sriwijaya), dan Asian Agri (Topaz) yang jumlahnya saat ini sudah mencapai 100 ribu bibit dengan umur bertingkat.

Dijelaskan Gulat,  program santri preneur sawit diarahkan masuk usaha pembibitan dengan pertimbangan tingginya kebutuhan bibit. Riau sebagai provinsi terluas perkebunan sawit di Indonesia, yaitu 4,172 juta ha (25% dari total luas perkebunan sawit Indonesia, 16,38 juta ha). Dari luasan sawit di Riau inilah, ada potensi kebun yang harus diremajakan sekitar 780.000 hektare.

“Riau mendapatkan bantuan peremajaan sawit yang didanai oleh BPDP-KS untuk diremajakan melalui program PSR adalah seluas 11.400 hektar. Luas PSR yang didanai oleh BPDPKS ini membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 1.824.000 bibit. Belum lagi peremajaan sawit yang dilakukan secara swadaya petani sawit dan korporasi diperkirakan tahun 2022 ini mencapai 26.000 ha dan membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 4.160.000 bibit,” jelas Gulat.

Dengan demikian kebutuhan total bibit sawit hybrid di Riau tahun ini mencapai 5,984 juta bibit. Dari catatan APKASINDO (2021), kemampuan penangkar resmi bibit sawit di Riau tahun 2022 ini hanya menyediakan 1,2 juta bibit. Sisanya dipenuhi dengan membeli dari luar provinsi Riau atau dibeli dari penangkar tidak resmi.

Gulat mengatakan keuntungan dari pembibitan sawit sangat menjanjikan bagi santri dan pesantren. Jika harga jual 1 bibit sawit siap salur (umur 12 bulan) Rp.45.000/bibit dan modal per 1 bibit diketahui Rp25.000/bibit, maka keuntungan bersihnya mencapai Rp20.000/bibit. Dengan demikian jika melakukan pembibitan sawit sebanyak 10.000 bibit, diperkirakan keuntungannya sebesar Rp200 juta.

“Tentu usaha ini cukup produktif dilakukan oleh pondok pesantren yang lokasinya diperkebunan sawit. Apa lagi dalam penangkaran bibit sawit ini tidak dibutuhkan skill tinggi, semua orang bisa melakukannya asal kanada pendampingan. Disinilah peran APKSINDO dalam kegiatan pendampingan santri,” ujar Doktor lulusan Universitas Riau ini.

Keberhasilan APKASINDO mendampingi santri sawit inilah yang dipuji Wapres RI, K.H Ma’ruf Amin dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Teknologi Kecamatan Siak Hulu, Desa Pangkalan Baru.

“Ini suatu kolaborasi menurut saya bagus sekali dan melibatkan santri. Ini kita memang ingin pesantren jadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, baik ekonomi sektor keuangan, sektor riil, juga sektor produksi,” ucapnya.

Disamping itu, Wapres juga menyaksikan penyerahan secara simbolik oleh Gubernur Riau Syamsuar, sumbangan kecambah sawit sebanyak 10.000 kecambah hybrid kepada Pengelola Pondok Pesantren Teknologi Riau. Adapun sumbangan ini berasal dari Sinarmas sebanyak 5.000 kecambah (jenisDxPDamimas) dan Surya Dumai (DxP First Resources) sebanyak 5.000 kecambah. Kecambah ini akan ditangkar oleh Santri preneur dan kemudian akan disalurkan untuk program peremajaan sawit rakyat.

Lebih jauh Wapres mengungkapkan, kelapa sawit hanya tumbuh di Indonesia dan Malaysia. Untuk itu, potensi tersebut harus dimanfaatkan.

“Sawit ini hanya (tumbuh) di Indonesia dan Malaysia. Di negara lain tidak memiliki potensi ini. Tapi kalau ini tidak kita kembangkan dan terus kita inovasi-inovasi produknya tentu tidak memberikan manfaat dan kemaslahatan,” kata Wapres mengingatkan.

Pada kesempatan tersebut Wapres Ma’ruf Amin berharap pondok pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan islam, namun juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Baik ekonomi yang menyangkut sekto rkeuangan maupun sektor riil dan juga sektor produksi. Ini harus menjadi semangat bersama, para santri dan masyarakat,” ujarnya.

Maruf berharap terobosan yang dilakukan oleh para santri Pondok Pesantren Teknologi Riau ini bisa menjadi contoh bagi santri lain di seluruh Indonesia. Tidak harus sawit, tapi para santri bisa mengembangkan sektor komoditas pertanian lainya sesuai dengan kecocokan daerah masing-masing.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 131)

Share.