Melepas Ketergantungan Pada SDA & Memaksimalkan Potensi Indonesia

Pada penyelenggaraan Kegiatan Awal Mahasiswa Baru (KAMABA) hari keempat, Universitas Indonesia (UI) menghadirkan salah seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof. Bambang P.S. Brodjonegoro, Ph.D sebagai narasumber dalam sesi kuliah umum bertajuk “Merawat & Mengembangkan Potensi Indonesia”. Dalam pemaparannya, Prof. Bambang mengatakan bahwa perubahan mendasar yang harus dilakukan Indonesia dalam bidang ekonomi adalah mengubah paradigma pembangunan, yakni dari berbasis Sumber Daya Alam (SDA) menjadi berbasis inovasi-riset.

Perubahan menjadi salah satu tema besar dari pemaparan Prof. Bambang dalam kuliah umum tersebut. Menurutnya, potensi SDA Indonesia ini luar biasa, bahkan salah satu yang terkaya di dunia. Indonesia adalah salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dengan jumlah produksi sebesar 465.000 ton per tahun. Tidak hanya itu, produksi karet dan kopi Indonesia juga merupakan salah satu produksi terbesar di dunia dengan jumlah sebesar 2,80 juta ton, dan kopi sebesar 465.000 ton per tahun. “Belum lagi potensi laut dan keanekaragaman hayati yang begitu besar, menjadikan Indonesia adalah negara yang terberkati (given) oleh SDA. Namun, SDA bukanlah faktor penentu terkuat dari kemajuan suatu negara, tapi yang utama adalah sumber daya manusia, terutama dalam ekosistem ekonomi yang digerakkan oleh teknologi-informasi,” ujarnya.

Dalam ekosistem ekonomi berbasis inovasi inilah, keberadaan para entrepreneur (wirausahawan) diperlukan. “Setelah lulus, mari menata masa depan Anda dengan menyambungkannya dengan masa depan negara. Banyak pilihan yang dapat Anda pilih: menjadi pekerja, profesional, atau menciptakan lapangan kerja. Semuanya bagus. Namun saat ini negara lebih membutuhkan para pencipta lapangan kerja yang dapat mengolah SDA Indonesia melalui riset dan inovasi untuk menjadi produk intermediate atau produk akhir yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Mantan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia Kabinet Indonesia Maju, 2019-2021.

Selanjutnya, Prof. Bambang juga memaparkan bahwa Indonesia pada tahun 2040-2050 punya kesempatan untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia, setelah Cina, India, dan Amerika Serikat melalui apa yang disebut bonus demografi, dimana jumlah usia produktif (17-60 tahun) di Indonesia akan sangat besar.  Ia memprediksi, pada tahun 2050, Indonesia akan mempunyai Produk Domestik Brutto per kapita terbesar keempat di dunia dengan angka 28,934 juta dollar untuk 320 juta penduduk. Tidak hanya itu, pada tahun 2050 eletrifikasi/jumlah akses listrik di Indonesia akan mencapai 1 juta megawatt, jumlah fasilitas kesehatan yang meningkat, dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 150 juta orang per tahun.

Untuk dapat mencapai prediksi-prediksi tersebut, bonus demografi ini harus dikelola menggunakan pendidikan dan penguasaan teknologi-informasi. Oleh karena itu, ia merekomendasikan para mahasiswa baru di UI untuk memiliki empat skil milennial yang akan sangat berguna di era digital, yaitu: kemampuan memecahkan masalah (problem solving), manajemen diri (self-management), bekerja sama dengan orang lain (working with team), dan kemampuan memahami perkembangan teknologi (technology & development).

Turut hadir pada kuliah umum tersebut Prof. Dr. Ir. Dedi Priadi, DEA., Wakil Rektor UI bidang Sumber Daya Manusia dan Aset. Dalam sambutannya, Prof. Dedi berharap dengan mengikuti sesi kuliah umum ini, maka pengetahuan kebangsaan para mahasiswa baru akan bertambah. Menurutnya, dinamika perkembangan zaman termasuk pandemi, membawa banyak perubahan terutama dalam bidang penggunaan teknologi-informasi. “Namun perubahan-perubahan ini harus kita hadapi dengan terus beradaptasi,” katanya.

Di hari keempat pelaksanaan KAMABA UI, tema yang diangkat adalah “Merawat Keberagaman”. Lewat pemaparan materi-materi yang disampaikan, diharapkan para mahasiswa baru dapat memahai cara menjaga apa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, baik alam, kebudayaan, maupun nilai-nilai khas bangsa. Inilah esensi dari apa yang disebut “merawat”.  Materi tersebut dipaparkan dengan mengundang narasumber-narasumber ternama yang ahli dibidangnya, diantaranya adalah Erick Thohir (Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia), Anita Wahid (Deputi Direktur Public Virtue Research Institute), dan Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H( Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Sumber: ui.ac.id

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Tahun Suram Emiten Sawit

Anjloknya harga sawit menekan pendapatan dan laba bersih emiten. Kebijakan efisiensi dijalankan dalam rangka mempertahankan kinerja. Di penghujung…