Mandatori B20 Berdampak Positif Kepada Neraca Perdagangan

NUSA DUA, SAWIT INDONESIA – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mendukung program pemerintah Joko Widodo untuk melaksanakan program B20 dalam rangka meningkatkan penyerapan minyak sawit di pasar domestik.

Mandatori biodiesel B20 diyakini mampu mengangkat harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar dunia. Kebijakan percampuran solar dengan minyak sawit menjadi solusi penyerapan stok minyak sawit di tengah melambatnya permintaan di pasar ekspor.

Pernyataan itu disampaikan Joko Supriyono menanggapi arahan Presiden Joko Widodo dalam acara pembukaan International Palm Oil Conference (IPOC 2018) di Nusa Dua Bali, pada Senin lalu.

Saat itu, Presiden Jokowi menyebut ada lima hal yang harus dilakukan dalam pengembangan industri minyak sawit nasional. Salah satunya implementasi pemakaian biodiesel B20 terus dipercepat dan dilaksanakan secara maksimal. Ia juga mengakui pelaksanaannya masih belum berjalan secepat yang diharapkan.

Baca Juga :   Uni Eropa Tantang Indonesia, Buktikan Ada Diskriminasi Sawit

“Ini saya kejar terus agar penggunaannya bisa 100 persen, agar stok CPO yang ada itu bisa diserap kita sendiri. Ngapain kita impor minyak kalau dari kelapa sawit kita bisa gunakan campuran biodiesel?” tegas Presiden Jokowi.

Sebab jika stok minyak kelapa sawit yang ada digunakan untuk campuran bahan bakar biodiesel B20, maka otomatis akan mendongkrak harga dari kelapa sawit.

Sementara itu, Joko Supriyono mengatakan, pengurangan impor minyak mentah melalui subtitusi dengan biodiesel akan berdampak positif bagi neraca perdagangan.

“Ini akan membantu mengurangi defisit neraca perdagangan dan akan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar rupiah,” kata Joko.

Lebih lanjut, Joko menambahkan, pada 2018 produksi minyak sawit nasional bisa mencapai 42 juta ton, sebanyak 30 juta ton akan diekspor. “Kalau melihat besarnya produksi minyak sawit, program mandatori biodiesel B20 tidak akan pernah mengalami kesulitan bahan baku,” katanya.

Baca Juga :   Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian III)

IPOC 2018 and 2019 Price Outlook akan dimulai pada Kamis (1 November) di BICC Nusa Dua Bali. Konferensi IPOC ke-14 tahun ini akan mengambil tema “Palm Oil Development: Contribution to SDGs”.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita,  dan Kepala Bappenas akan menyampaikan special address pada hari pertama konferensi. Sementara itu pembicara pada sesi konferensi antara lain pakar komoditas dunia James Fry dari LMC International Inggris, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd Inggris, dan Thomas Mielke dari Oil World Jerman.

Sementara itu beberapa pembicara dari dalam negeri antara lain: Musdalifah Mahmud (Deputi Kemenko Perekonomian bidang Pangan dan Pertanian), Mahendra Siregar (Council of Palm Oil Producing Countries), Aziz Hidayat (Ketua Sekretariat ISPO), dan beberapa pembicara lain. Lebih dari 1.500 peserta dari 36 negara hadir dalam konferensi minyak sawit terbesar di dunia tersebut.

Baca Juga :   Adu Cepat Indonesia dan Malaysia Kuasai Pasar Sawit Pakistan
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like