Lahirnya Sentra Ekonomi Baru Dari Sawit

Peranan kelapa sawit diperhitungkan untuk mengentaskan kemiskinan di luar pulau Jawa. Dapat menjangkau daerah terpencil serta membuka pusat ekonomi baru. Di luar negeri, tenaga kerja di industri sawit mencapai 2,73 juta orang termasuk Eropa.

Studi dan riset berbagai lembaga menunjukkan peranan kelapa sawit dalam pengentasan kemiskinan. Laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan menjelaskan bahwa industri kelapa sawit berhubungan pada lapangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dimana 4,2 juta lapangan pekerjaan secara langsung melalui kepemilikan perkebunan sawit dan 12 juta lapangan pekerjaan tidak langsung. Dalam industri kelapa sawit, peran petani sawit cukup besar dalam perluasan industri. Saat ini hampir setengah dari seluruh lahan kelapa sawit di Indonesia dikelola oleh petani dalam skala kecil (perkebunan rakyat).

TP2KN dalam laporan berjudul  Ringkasan Kebijakan: Industri Kelapa Sawit, Penanggulangan Kemiskinan dan Ketimpangan menyebutkan konsumsi rumah tangga miskin dan rumah tangga pertanian meningkat lebih signifikan di daerah perluasan kelapa sawit. Hal ini mengindikasikan lebih tingginya pendapatan pekerja di sektor kelapa sawit yang secara umum juga mengangkat upah pekerja di sektor pertanian. Menurunnya tingkat kemiskinan kabupaten/kota dan provinsi serta meningkatnya pendapatan pekerja di sektor pertanian dan rumah tangga 20% terbawah menunjukan bahwa dampak positif industri kelapa sawit juga menyebar kepada kelompok miskin di luar sektor kelapa sawit.

Riset serupa diterbitkan Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), perkebunan kelapa sawit mampu membangun daerah miskin dan terbelakang untuk menjadi sentra perekonomian baru. Sentra ekonomi baru ini tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat.

“Kelapa sawit membantu dunia dalam Sustainable Development Goals (SDG) di bidang mengatasi persoalan kemiskinan,” ujar Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm  Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).

Hal ini diungkapkannya dalam Diskusi Webinar Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) yang bertemakan “Peranan Kelapa Sawit Dalam Pengentasan Kemiskinan Dan Mewujudkan Gratieks”, Rabu (31 Maret 2021). Pembicara lain yang hadir antara lain Heru Tri Widarto (Direktur Tanaman Tahunan dan Tanaman Penyegar Kementerian Pertanian RI) dan Dr. Bedjo Santoso (Pengamat Kehutanan).

Dikatakan Tungkot, tiga jalur industri minyak sawit menolong kemiskinan dunia. Pertama, jalur produksi melalui sentra perkebunan sawit. Kedua, jalur hilirisasi di negara importir minyak sawit. Ketiga adalah jalur konsumsi minyak sawit.

Setelah era bisnis HPH (Hak Pengusahaan Hutan ) berakhir, muncul kota mati atau kota hantu karena ekonomi tidak bergerak. Imbasnya, masyarakat setempat menjadi miskin. “Disinilah,  peranan  kebun sawit rakyat  yang merestorasi lahan eks HPH menjadi daerah produktif dan lestari secara lingkungan. Selain itu, perekonomian mulai bergerak dengan hadirnya perkebunan sawit,” jelas Tungkot.

Dari aspek ekonomi, terjadi nilai transaksi antara masyarakat kebun sawit dengan ekonomi di pedesaan dan perkotaan. Nilai transaksi masyarakat kebun sawit dengan masyarakat perkotaan sebesar Rp 202,1 triliun/tahun dan masyarakat kebun saiwt dengan ekonomi pedesaaan sebesar Rp 59,8 triliun/tahun.

Pertumbuhan perkebunan sawit di setiap daerah berkontribusi menurunkan kemiskinan. Kondisi serupa dialami oleh Malaysia, Thailand, Papua Nugini.

“Jadi, di mana ada perkebunan sawit di situ kemiskinan turun karena ada tenaga kerja yang masuk ke sana. Tumbuh pusat pusat pertumbuhan ekonomi baru,”ucap dia.

Pengamat Kehutanan, Dr. Bedjo Santoso mengungkapkan industri kelapa sawit mampu menyerap 16,2 juta orang tenaga kerja. Rinciannya, 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Devisa kelapa sawit tahun 2018 sebesar 240 trilliun rupiah. Kelapa sawit mampu menjadi tulang punggung  perekonomian nasional.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 114)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like