Pandemi Ubah Tren Penggunaan Kosmetik

Kusuma Ida Anjani, Ketua Harian Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK Indonesia) menjelaskan inovasi produk kosmetika terus berkembang pesat di kala pandemi. Dalam lima tahun terakhir, ada 185 ribu produk yang sudah teregistrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kusuma Ida Anjani yang akrab dipanggil Ajeng dalam Dialog Webinar bertemakan “Fitonutrient Sawit untuk Gizi Kesehatan dan Personal Care” yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) bersama Majalah Sawit Indonesia.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melansir data pertumbuhan sepanjang triwulan I 2018 terjadi peningkatan sebanyak 153 perusahaan kosmetika baru. Kenaikan ini didominasi industri kecil menengah (IKM).  Sehingga total industri kosmetik nasional menjadi 760 perusahaan yang mayoritas 95 persen IKM dan sisanya 5 persen industri skala besar.

“Kami yakin tahun 2021 jumlahnya akan semakin bertambah dan semakin banyak produk-produk ,perusahaan yang menggunakan atau memanfaatkan bahan bahan asal Indonesia dan juga menjadi kebanggaan Indonesia,” kata dia.

Sementara itu, tahun 2020 ada tren perjualan produk kosmetik dekoratif selama pandemi cenderung turun. “Sedangkan kategori skin care dan personal care mengalami kenaikan walaupun tidak terlalu signifikan,” tandas Kusuma.

Namun adanya ekspektasi pemulihan ekonomi tahun ini diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 4,5-5,3 persen. Mengutip trend data penjualan dari Statista 2020, tren penjualan personal care tetap tumbuh di kala pandemi. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh penangangan kasus Covid-19 semakin baik dan program vaksinasi bisa merata di seluruh wilayah Indonesia. “Harapannya, pertumbuhan industri kosmetik semakin membaik tahun ini,” terang dia.

Di awal pandemi, industri ini mengalami tantangan dari sisi distribusi bahan baku karena adanya pembatasan kegiatan operasional kerja.”Namun itu bisa diatasi dengan protokol kesehatan yang jelas dari pemerintah,” ujar Kusuma.

Selain itu, perubahan pola pengeluaran konsumen yang disebabkan oleh perubahan perilaku. “Konsumen  cenderung membeli produk primer selama masa pandemi,” kata dia.

Kemudian peningkatan tren dunia digital, salah satunya perubahan perilaku konsumen untuk berdiam di rumah (stay at home) dan pembatasan sosial skala besar. Ini terlihat terjadi perubahan signifikan penjualan produk kosmetik dan personal secara online tahun 2020 mengalami kenaikan.

“Dikutip dari data Statista Oktober 2020, Sebelumnya kontribusinya 14 persen melalui online. Tahun 2020 penjualan kosmetik dan personal care naik kontribusi online menjadi 21 persen. ini tidak luput dari perubahan perilaku konsumen, meskipun penjulan offline masih tetap besar, tapi kita harus melakukan perubahan strategi marketing dan penjualan selama pandemi,” terang lulusan Monash University ini.

Terbukti berdasarkan data (Mengutip data Kantar 2020), sekitar 83 persen konsumen mengakses internet setiap hari, bahkan dari kelas sosialatas, menengah dan bawah sekitar 80 persen mengakses media sosial. ”Untuk itu, dalam strategi penjualan  kosmetik melakukan promosi dan engagement melalui e-commerce dan  media sosial,”ungkapnya.

Di samping itu, inovasi dalam industri kosmetika dari produk-produk multi fungsi  tidak hanya memberi fungsi kecantikan. Selain itu, ada inovasi kesehatan kulit dan juga sanitasi.

Pada Juni 2020, pelaku IKM kosmetik mulai beralih strategi pemasaran secara digital. “Ini salah satu cara yang kerap digunakan untuk bangkit dari krisis atau tantangan pandemi Covid-19.

Dia mengungkapkan, awalnya penggunaan make up terutama untuk dekoratif cenderung menurun karena Work From Home (WFH) dan menggunakan make up pada kegiatan webinar atau meeting online. “Itu cenderung dirasakan dampaknya terhadap industri tata rias,” jelas dia.

Penggunaan produk pembersih diri semakin diminati oleh konsumen seperti sabun dan pasta gigi. “Merawat kecantikan apa bila kondisi kulit menjadi kering atau berjerawat justru dibutuhkan inovasi produk personal care dan permintaan konsumen juga naik,” kata Kusuma.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 114)

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like
Read More

Harapan 7%

Penulis: Dr. Bayu Krisnamurthi (Pengamat Pertanian) Sebuah kejutan yang menyenangkan. Pertumbuhan ekonomi Kuartal II 2021 ini mencapai 7%.…