Harga komoditas diperkirakan akan terus merangkak naik termasuk minyak sawit. Dipengaruhi kebijakan domestik Indonesia berkaitan stabilisasi minyak goreng. Faktor energi dan konflik Rusia-Ukraina akan memberikan dampak meluas.

Harga minyak sawit terus menunjukkan tren positif menjelang triwulan pertama 2022. Di Bursa Malaysia,  harga minyak sawit mentah (CPO) mencapai rekor tertinggi sepanjang masa RM6.158 per ton pada 21 Februari. Sejumlah analis harga menyebutkan kondisi ini dipengaruhi siklus super sebagai dampak masalah pasokan pasar minyak nabati dunia.

Di Indonesia, harga tender KPB juga cetak rekor pada 24 Februari 2022. Harga CPO mencapai Rp 17.000 per kilogram. Rahmanto Amin Jatmiko, Direktur PT Kharisma Pemasaran Bersama (KPBN) Inacom, mengatakan kenaikan harga CPO ini dipengaruhi empat faktor.

Pertama, kekurangan produksi di negara produsen akibat Covid-19 dan gangguan cuaca, sebagai contoh pasokan sawit dari Malaysia turun sampai 6%. Kedua, kebijakan India yang memotong pajak impornya.

Ketiga, dampak spekulasi commodity supercycle. Faktor keempat yaitu solidnya pergerakan harga minyak mentah dan minyak nabati.

“Harga tingginya masih akan bertahan sampai kuartal pertama 2022, setidaknya jelang Ramadhan. Hingga perbaikan di pertengahan 2022,” ujarnya.

Ia mengatakan harga CPO sangat dipengaruhi market. KPB melakukan tender dalam penentuan harga setiap hari. Selama suplai berkurang terutama karena pandemi Covid-19 karena pergerakan manusia terbatas. Sebagaimana terjadi di Malaysia yang kekurangan tenaga kerja.

Kenaikan harga memang dipengaruhi dari ketersediaan CPO di pasar dunia. Indonesia dan Malaysia sebagai negara produsen CPO berkontribusi 85% terhadap pasokan dunia.

Di Malaysia, dapat dilihat penurunan data produksi CPO dari kinerja bulanan yang dirilis oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Produksi CPO turun 13,54 persen dibandingkan Desember tahun lalu. Persoalan produksi ini disebabkan kekurangan tenaga kerja untuk pemanenan di perkebunan sawit negeri jiran. Turunnya stok minyak sawit pada Januari tahun ini sebesar 1,55 juta ton, turun 3,85 persen dari 1,61 juta ton pada Desember tahun lalu juga mendukung harga CPO.

Sepanjang Februari, turunnya produksi CPO Malaysia akan tetap terjadi sekitar 1,79%. Masalahan tenaga kerja yang belum terselesaikan akan membawa dampak kepada produksi. Malaysia membutuhkan tenaga kerja asing sebanyak 600 ribu orang dari Indonesia, India, dan Bangladesh.

Di Indonesia, kebijakan pengendalian minyak goreng membawa dampak kepada pasokan CPO global. Tak tik mengunci ekspor sebagai syarat pemenuhan minyak goreng domestik. Berdampak kepada perdagangan CPO keberbagai negara.

Konsensus pasar memproyeksikan harga CPO akan tetap tinggi karena pasokan jangka pendek yang cukup ketat sebagai dampak tingkat persediaan minyak sawit yang rendah pada Januari 2022 — yang turun 4% bulan-ke-bulan tetapi tumbuh 17% tahun-ke-tahun menjadi 1,55 juta ton menurut MPOB.  Situasi ini berakibat pemulihan yang lambat dalam produksi komoditas.

Merujuk data CGS-CIMB Research stok sawit yang dilaporkan oleh MPOB lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sekitar 1,58 juta hingga 1,59 juta ton karena permintaan ekspor yang lebih tinggi dari perkiraan pada Desember 2021.

“Pendorong utama pertama dari kenaikan harga CPO, tentu saja, kekurangan tenaga kerja selama satu tahun yang seharusnya dapat terselesaikan pada awal 2022, tetapi tetap tidak terselesaikan,” kata Ng seperti dilansir dari laman www.theedgemarkets.com.

Kepala Riset CGS-CIMB Ivy Ng Lee Fang mengatakan bahwa harga CPO baru-baru ini mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Namun secara jangka pendek, harga mungkin akan tetap tinggi selama satu hingga tiga bulan ke depan tergantung pada perkembangan beberapa faktor utama.

Ini termasuk masalah kekurangan tenaga kerja yang belum terselesaikan, pengenalan aturan kewajiban pasar domestik di Indonesia, kekeringan di Amerika Selatan, serta bagaimana krisis Ukraina berlangsung selama periode tersebut.

Sebagai catatan, baik Rusia dan Ukraina berkontribusi 60% terhadap produksi minyak bunga matahari dunia. Di sisi lain, ekspor kedua negara ini menyumbang 70% kepada ekspor bunga matahari di pasar dunia.

Negara-negara konsumen minyak nabati mengandalkan minyak bunga matahari, minyak yang paling banyak diproduksi keempat setelah minyak rapeseed, untuk menutup kesenjangan pasokan. Langkah Rusia untuk memerintahkan pasukan ke wilayah separatis di Ukraina timur kini telah menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan.

“Pemuatan kapal minyak bunga matahari telah tertunda setidaknya seminggu dari Ukraina,” kata Sandeep Bajoria, presiden Asosiasi Minyak Bunga Matahari Internasional seperti dilansir dari indiatimes.com.

Sementara itu, faktor kunci kedua yang mempengaruhi pasar CPO adalah aturan kewajiban pasar domestik Indonesia — diperkenalkan pada 27 Januari — yang mengharuskan eksportir minyak sawit untuk menjual 20% dari volume ekspor yang dimaksudkan di pasar domestik dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah sebelum diberikan. izin ekspor minyak sawit.

Ng mengatakan aturan baru itu telah mempengaruhi volume ekspor, yang selanjutnya menyebabkan ketatnya pasokan di pasar karena Indonesia adalah pengekspor minyak sawit terbesar di dunia.

Dia menambahkan bahwa negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina, yang memproduksi sebagian besar minyak kedelai untuk konsumsi global, telah menderita kekeringan tak terduga yang telah mempengaruhi hasil produksi dan mendorong harga minyak kedelai, yang mengarah ke negara-negara seperti India untuk mencari alternatif. minyak seperti minyak sawit Malaysia.

“Ada kekhawatiran bahwa mereka tidak bisa mendapatkan minyak bunga matahari, minyak yang bersaing dengan minyak sawit. Ada stok minyak matahari, tetapi ekspor minyak matahari mungkin dibatasi karena potensi eskalasi,” ujar Ng.

Untuk memenuhi kebutuhan minyak makan, India memangkas pajak impor minyak sawit mentah (CPO) menjadi 5 persendari 7,5 persen. Kebijakan ini ditempuh guna mengendalikan harga komoditas lokal, dan membantu refineri untuk menyuplai konsumen domestik.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 124)

Share.

Comments are closed.