Kontribusi Minyak Sawit Untuk Indonesia.

Selain sumber devisa negara, ekspor minyak sawit dan produk turunannya juga merupakan sumber penerimaan pemerintah yakni dari bea keluar minyak sawit. Secara akumulatif penerimaan pemerintah dari bea keluar minyak sawit meningkat dari Rp. 4,2 triliun (2007) menjadi Rp. 111,6 triliun (2016).

Data tersebut sangat jelas memperlihatkan bahwa industri minyak sawit Indonesia juga memberikan kontribusi pada penerimaan pemerintah. Mulai penerimaan pemerintah berupa bea keluar minyak sawit tersebut masih lebih besar dibandingkan dengan nilai akumulatif subsudi yang diterima petani tanaman pangan, peternak dan nelayan selama lima tahun terakhir.

Tentu selain dari bea keluar, sama seperti sektor-sektor ekonomi lainnya industri minyak sawit juga menjadi sumber penerimaan (pajak) pemerintah yang cukup besar baik dari PBB, PPN dan PPh.

Industri Minyak Sawit Indonesia Dari Hulu Hingga Hilir

Indonesia telah memiliki kebijakan hilirisasi industri minyak sawit. Memang sebelum tahun 2008 kebijakan hilirisasi berjalan secara revolusioner tanpa dukungan kebijakan yang fokus pada hilirisasi minyak sawit. Sejak tahun 2008, kebijakan hilirisasi semakin fokus dan intensif terutama untuk menyelamatkan pertumbuhan produksi CPO yang makin cepat.

Secara garis besar ada tiga jalur strategi hilirisasi minyak sawit di dalam negeri yakni (1) Jalur Hilirisasi Oleofood ( minyak goreng, margarin, specialty fat dan oleo pangan lainnya); (2) Jalur Hilirisasi Oleo kimia untuk menghasilkan produk yang lebih hilir seperti surfactan, lubricant dan lain-lain, dan (3) Jalur hilirisasi Biodiesel untuk menghasilkan energi nabati berbasis sawit (fatty acid methyi ester) sebagai subsitusi energi fosil. Melalui berbagai jalur hilirisasi tersebut diharapkan akan diperoleh produk-produk hilir sawit yang lebih memiliki nilai tambah.

Menurut data tabel Input-Output Indonesia, nilai tambah industri minyak sawit telah mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pertumbuhan nilai tambah terjadi pada perkebunan kelapa sawit maupun industri hilir minyak sawit. Diperkirakan pertumbuhan nilai tambah tersebut akan makin cepat dan luas akibat percepatan hilirisasi minyak sawit dan peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit yang sedang berlangsung.

Sumber: Mitos vs Fakta, PASPI, 2017

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like