Kontribusi Industri Minyak Sawit Indonesia Terhadap Pembangunan Berkelanjutan, Baik Secara Ekonomi, Sosial, Maupun Ekologi Di Indonesia

Penulis: Zhena Nofthatiaz (Mahasiswi Universitas Riau)

PENDAHULUAN

Dalam perekonomian makroekonomi Indonesia, industri minyak sawit memiliki peran strategis, antara lain penghasil devisa terbesar, lokomotif perekonomian nasional, kedaulatan energi, pendorong sektor ekonomi kerakyatan, dan penyerapan tenaga kerja. Penggunaan minyak kelapa sawit terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia, perkembangan teknologi produksi, dan peningkatan tingkat konsumsi penduduk, diperkirakan bahwa penggunaan minyak kelapa sawit akan terus meningkat dan peningkatannya akan mencapai level 100% pada tahun 2020 (Wetlands, 2013). Peningkatan cepat pangsa minyak sawit dalam pasar minyak nabati dunia telah memengaruhi dinamika persaingan antarminyak nabati, termasuk bentuk kampanye negatif/hitam terhadap minyak sawit.

 Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dipersepsikan tidak berkelanjutan (unsustainable) serta dituduh sebagai penyebab utama deforestasi.Deforestasi merupakan hal yang normal dalam sejarah pembangunan sejumlah negara besar di dunia, baik Amerika Serikat maupun Eropa. Namun, isu deforestasi digunakan untuk menekan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit Indonesia Bersamaan dengan perkembangan yang pesat tersebut, perkebunan kelapa sawit tetap harus dijalankan secara berkelanjutan.Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit tidak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Artikel ini bertujuan mengkaji keberlanjutan perkebunan kelapa sawit dari aspek ekonomi,sosial, maupun ekologi.

1.Pembahasan

2.1. Keberlanjutan kelapa sawit

Sejak tahun 2015 masyarakat dunia melalui United Nations telah menetapkan platform pembangunan global tahun 2015-2030 yakni pembangunan berkelanjutan atau disebut dengan Sustainable Development Goal’s (SDG’s).Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar, yakni aspek ekonomi, sosial, dan ekologis,yang sering disebut 3P (profit, people, planet) (Cato, 2009; World Bank, 2012).

Sebagaimana dikemukakan oleh World Bank (2013) dalam publikasinya yang berjudul : Inclusive Green Growth : The Pathway to Sustainable Development , mengungkapkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya bertumbuh “hijau” ( green growth ) teteapi juga haruslah  bersifat inklusif.Oleh karena itu , untuk mengukur sustainability memerlukan indikator inklusifitas baik ekonomi , sosial , maupun ekologi.

2.2. Inklusifitas secara ekonomi

Menurut kementrian Transmigrasi dan Tenaga Kerja (2014) setidaknya 50 kawasan pedesaan terbelakang/terisolir telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis sentra produksi CPO .Hasil studi PASPI misalnya nilai transaksi( sales ) produk – produk yang ditawarkan kepada masyarakat kebun sawit mecapai Rp.336 milyar/tahun. Sementara transaksi sales antara produk-produk pertanian pedessan  yang dipasarkan ke masyarakat kebun sawit mencapai  Rp.92 triliun/tahun. Dalam bahasa ekonomi , kemitraan sawit tersebut menciptakan multiplier effect baik output , nilai tambah, pendapatan maupun kesempatan kerja.

2.3. Inkluisifitas secara sosial

Studi PASPI (2015) menemukan bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap pada perusahaan perkebunan sawit sekitar 67 persen merupakan tenaga kerja berpendididkan SLTP kebawah dan sisanya merupakan lulusan SLTA ke atas.Industri sawit berkontribusi pada penciptaan kesempatan kerja dan berusaha yang luas dan besar.Sekitar 3 juta usaha keluarga (petani sawit), ribuan usaha menengah dan besar, ribuan supplier jasa/barang ikut terlibat dalam industri sawit. Jutaan penduduk berhasil keluar dari kemiskinan.Jumlah tenaga kerja yang bekerja pada industry sawit mencapai 8,2 juta orang pada tahun 2016. Untuk indicator sosial inklusif berbagai studi membuktikan bahwa dampak multiplier pertumbuhan perkebunan kelapa sawit juga cukup besar bagi pembangunan wilayah pedesaan maupun pengurangan kemiskinan.

2.3. Inkluisifitas secara ekologi

Berdasarkan riset yang telah dilakukan UNDP, aktivitas peternakan sapi justru menyebabkan deforestasi hutan dan lahan lebih pesat di dunia. Peternakan sapi membutuhkan lahan seluas 1 hektar untuk melakukan budidaya ternak sapi. Aktifitas ternak sapi juga menyebabkan emisi gas karbon tinggi yang berasal dari kotorannya. Tingginya emisi karbon yang dihasilkan, dan luasnya penggunaan lahan bagi peternakan sapi, menurut Pascale, menjadi hal utama akan penyebab deforestasi.

Sementara itu, Anggota Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso mengatakan berdasarkan penelitiannya, lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 11 juta ha paling banyak berasal dari bekas kebun karet. Secara ekofisiologis, tanaman termasuk tanaman sawit dianugerahi mekanisme sebagai bagian pelestarian lahan gambut dan ekosistem secara keseluruhan..Sistem perakaran tanaman sawit yang memiliki biopori yang berfungsi mengikat air juga  sangat sesuai dengan kebutuhan pelestarian lahan gambut.

Kesimpulan

Pandangan selama ini yang menyatakan bahwa ekspansi kebun sawit merupakan pemicu (driver) deforestasi di Indonesia tidak didukung fakta. Bahkan, sebaliknya, ekspansi kebun sawit justru merupakan suatu land use change yang meningkatkan karbon stok lahan/reforestasi yang secara ekologis.Kelapa sawit sebagai komoditas tanaman perkebunan menjadi sumber devisa Negara penyedia lapangan kerja,dan menurunkan angka kemiskinan,sedangkan dalam aspek sosial antara lain dalam pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan. Peranan ekologis dari perkebunan sawit mencakup pelestarian daur karbondioksida dan oksigen, restorasi degraded land konservasi tanah dan air, peningkatan biomassa dan karbon stok lahan,serta restorasi lahan gambut. Dengan paradigma yang komprehensif tersebut, industri minyak kelapa sawit Indonesia akan terus tumbuh dalam perspektif berkelanjutan

Pustaka Acuan

World Bank. (2012). Inclusive green growth: The pathway to sustainable development. Washington, D.C.: World Bank.

Sipayung.T., & Purba, J. H. V (2017) :Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan. )Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute : STIE Kesatuan Bogor

Ngadi & Noveria,Mitha (2017) : Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia Dan Prospek Pengembangan Di Kawasan Perbatasan. Peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).(2014). Industri minyak sawit indonesia berkelanjutan: Peranan industri minyak kelapa sawit dalam pertumbuhan ekonomi, pembangunan pedesaan, pengurangan kemiskinan, dan pelestarian lingkungan. Bogor: PASPI.

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like