Konsistensi Adalah Kunci Keberhasilan Biodiesel

Biodiesel menjadi kebutuhan Indonesia di sektor energi baru terbarukan. Konsistensi sangat penting menjaga keberlangsungan program ini.

Evita Herawati Legowo punya peranan penting dalam  pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia. Ketika mengepalai Lemigas, Evita termasuk aktif dalam Forum Biodiesel Indonesia (FBI) yang berdiri pada 2002. FBI mewadahi peneliti, akademisi, pengusaha, pemerintah, dan pemerhati biodiesel untuk berdiskusi dan berbagi informasi seputar biodiesel.

Kontribusi Evita Legowo tertulis dalam buku “Biodiesel, Jejak Panjang Perjuangan” yang diterbitkan Badan Litbang ESDM RI pada Mei 2021. Ia termasuk salah satu penyusun Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Beleid ini menghasilkan aturan turunan berupa Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel sebagai bahan bakar lain.

“Saya juga menjadi Sekretaris Timnas Pengembangan BBN (Bahan Bakar Nabati) mewakili Kementerian ESDM RI,” ujar Evita.

Timnas Pengembangan BBN lahir berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 10 tahun 2006. Tugas Timnas BBN sangatlah penting untuk menyusun cetak biru (blue print) dan peta jalan (road map) pengembangan BBN.

“Semenjak 1997, saya telah ikut terlibat dalam penelitian awal biofuel di Lemigas. Kala itu, kami menyadari semakin kesini kita butuh energi alternatif dan lingkungan yang bersih. Memang, program biofuel ini tidak ujug-ujung langsung jadi,” urainya.

Saat menjadi Dirjen Minyak dan Gas, Evita Legowo telah memahami kemampuan sawit untuk menjadi bahan baku biodiesel. Diam-diam, ia ‘gerilya’ lebih gencar untuk memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan biodiesel. Bahkan menepis anggapan negatif dari pihak luar terhadap biodiesel dari sawit. Peranannya ini tertulis di halaman 37 buku “Biodiesel, Jejak Panjang Perjuangan”.

“Sawit punya potensi luar biasa dan tinggi untuk dijadikan biofuel. Kita punya sawit yang memerlukan pasar. Juga berperan penting bagi keberlanjutan lingkungan,” ujar pemegang gelar Doktor Engineering Minyak Bumi Technische Universität Clausthal Jerman ini.

Menurutnya pengembangan program mandatori biodiesel 30% atau B30 sudah terencana dan terkoordinasi sangat baik. Sebelum, pemerintah menggulirkan B30 telah dilakukan penelitian secara bersama-sama.

“Bagi saya (mandatori) ini sangat baik dari segi perencanaan dan kekompakan. Ada niat bersama sehingga mandatori biodiesel terlaksana bagus sekarang ini,” ungkapnya.

Sewaktu menjabat Dirjen Migas, Evita Legowo juga membidani lahirnya aturan yang mewajibkan pencampuran biodiesel  untuk bahan bakar. Kewajiban ini diatur melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.

Selain itu, Evita juga mendorong kebijakan insentif harga biodiesel. Kepiawaiannya berdialog dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membuat lahirnya persetujuan insentif harga biodiesel. Alhasil, pemerintah mengalokasikan insentif biodiesel melalui Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) di tahun 2009-2010.

Ada empat faktor mempengaruhi keberhasilkan program biodiesel. Pertama, kesadaran bersama terhadap kebutuhan lingkungan bersih. Karena temperatur dunia terus naik maka perlu diimbangi pemakaian energi bersih dan pentingnya keberlanjutan lingkungan.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 116)

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like