Mengantisipasi potensi karhutla di wilayah rawan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar Rapat Koordinasi Teknis Pengendalian Karhutla dan Antisipasi Musim Kemarau 2022 secara daring, 8/3/2021. Rapat yang dipimpin langsung oleh Menteri LHK, Siti Nurbaya, dilaksanakan untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah dalam menghadapi kemarau yang diprediksi mulai April 2020.

Siti Nurbaya menekankan perlunya perhatian dan antisipasi karhutla untuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dikarenakan proyeksi iklim akan mengalami potensi kemarau tinggi yang meningkatkan potensi karhutla terutama pada Periode Juli – Oktober 2022. Hal ini sangat penting mengingat akan ada empat puluh event internasional G20 yang dilaksanakan di Jakarta, Jogja dan Bali. Ia mengharapkan mendekati puasa dan lebaran serta dalam rangka persiapan pelaksanaan rangkaian kegiatan G20 perlu segera dilakukan water bombing dan TMC pada akhir Maret 2022.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Laksmi Dhewanthi memaparkan tentang persiapan yang telah dilaksanakan untuk menghadapi musim kemarau yang akan datang. Kondisi masih dalam kondisi La Nina menuju netral dan curah hujan akan mulai berkurang Bulan Maret- April 2022.

“Walaupun tahun ini lebih basah, namun curah hujan tahun ini lebih sedikit dibandingkan kondisi tiga tahun terakhir. Kondisi ini disebabkan oleh IOD dan La Nina netral sehingga tidak ada pasokan uap air untuk curah hujan tambahan di wilayah Indonesia. Kita harus menyiapkan upaya yang lebih intensif dibandingkan tiga tahun terakhir,” jelas Laksmi.

“Pemadaman sudah dilaksanakan di beberapa laokasi, sampai dengan Maret 2022 frekuensi kejadian karhutla yang telah berhasil dipadamkan oleh Manggala Agni dan satgas darat paling banyak terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” ungkap Laksmi.

Laksmi mengharapkan perlu adanya pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebelum musim kemarau bulan April, untuk membasahi gambut, mengisi embung serta kanal. Berdasarkan hasil evaluasi dua tahun terakhir, adanya intervensi TMC meningkatkan jumlah curah hujan. 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan pembentukan siklon di BBU secara umum memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi yang relatif lebih kering di wilayah Sumatera, seperti Riau dan sekitarnya, sebagai akibat tarikan massa udara yang cukup signifikan ke arah sistem siklon di Belahan Bumi Utara.

“Perlu diwaspadai peningkatan potensi kemudahan potensi karhutla di wilayah Kalimantan pada periode pertengahan DASARIAN II Maret 2022. La Nina saat ini masih berlangsung, namun diperkirakan semakin melemah menuju netral,” jelas Dwikorita.

Dwikorita mengungkapkan awal musim kemarau 2022 diperkirakan akan mundur di sebagian besar Zona Musim. Kita harus mewaspadai potensi karhutla di Sumatera pada Mei-Juni-Juli.

Pada kesempatan ini TNI, BNPB, dan BRIN juga mengungkapkan akan mendukung upaya pengendalian karhutla bersama dengan KLHK sesuai dengan arahan Presiden pada Rakornas 2021 agar jangan membiarkan api membesar sehingga sulit dipadamkan, pemadaman dilakukan dengan water bombing ketika api masih kecil, jangan tunggu api besar.

Hadir dan memberikan pemaparan pada rapat koordinasi teknis ini meliputi Kepala BMKG, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Deputi 3 Badan Nasional Pananggulangan Bencana, Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Akademisi IPB (Rahmat Hidayat). 

Sumber: sipongi.menlhk.go.id

Share.