Kebijakan Biodiesel Indonesia Ditengah Geopolitik Global

Program biodiesel menjadi kunci untuk Indonesia berdaulat. Pemanfaatan biodiesel di dalam negeri akan mengurangi ekspor ke negara maju seperti Eropa.

Presiden RI, Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia mengalami proses transformasi  ekonomi yang  bertahun-tahun berbasis pada komoditas dan bahan mentah, untuk beralih kepada produk bernilai tambah tinggi. “Sehingga ke depan kita ingin semuanya kita olah menjadi barang minimal setengah jadi atau barang jadi melalui yang namanya hilirisasi industri, melalui yang namanya industrialisasi,”.

Jokowi mencontohkan produk minyak sawit yang memiliki lahan seluas 13 juta hektare. Saat ini, produksi setahun kurang lebih 46 juta ton. “Bayangkan kalau itu diangkut oleh truk yang kecil itu berapa juta truk. Kalau satu truk 4 ton, berarti kita butuh kurang lebih 11 juta truk untuk ngangkut kelapa sawit. Itu untuk bayangan betapa produksi kelapa sawit Indonesia ini sangat besar.”

Walaupun sudah sedemikian besar, kata Jokowi, produksi CPO Indonesia dibandingkan negara tetangga produksi per hektare kelapa sawit kita itu masih kurang lebih, lebih kurang lebih 4 ton. “Harusnya per hektare bisa 7-8 ton, kalau lipat artinya produksi per tahunnya bisa mencapai hampir 100 juta ton.”

Baca Juga :   Petani Kompak Hadapi Kampanye Hitam Sawit

“Jangan lagi kita mengekspor CPO ini terus-terusan. Harus mulai kita ubah kepada barang setengah jadi atau barang jadi. Ini yang telah kita lakukan karena kalau tidak, kita selalu dimain-mainin oleh pasar,” ujarnya.

Jokowi menegaskan Uni Eropa memunculkan isu tidak ramah lingkungan. Isu tersebut dikeluarkan karena sawit ini bisa lebih murah dari minyak bunga matahari yang dihasilkan oleh mereka. “Ini hanya perang bisnis antarnegara, perang ekonomi antarnegara tapi dipakai alasan terus,” jelasnya.

“Oke enggak apa-apa, kamu enggak beli CPO kita tidak apa-apa, karena sekarang kita telah menjadikan CPO kita, minyak kelapa sawit kita menjadi B20 dan tahun ini sudah B30,” kata Jokowi.

“Coba bayangkan dengan menjadikan CPO kita ke B30, kita menghemat kurang lebih Rp110 triliun per tahun. Dan nantinya kalau sampai kepada B50 saya enggak bisa menghitung, yang jelas pasti lebih dari Rp200 triliun,” kata Jokowi.

Menurutnya jika Indonesia bisa masuk ke B100, saya tidak bisa membayangkan bahwa kita sudah tidak impor minyak lagi. Semua yang kita pakai adalah green fuel yang kita pakai adalah biodiesel, semuanya, artinya ramah lingkungan.”

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian LVII)

Komoditas yang lainnya adalah nikel. “Kita ini sudah ekspor nikel ore itu sudah berapa juta ton, selalu bahan mentah. Sejak Januari kemarin, setop karena strategi besar kita ke depan kita ingin jadikan nikel ini lithium battery, yang dipakai untuk mobil listrik (electric vehicle). Karena Indonesia adalah produsen terbesar nikel,” paparnya.

Dijelaskan Jokowi bahwa strategi bisnis besar dalam rangka merancang sebuah pembangunan jangka panjang, ya kita akan menjadi eksportir bahan mentah terus. “Enggak akan terjadi yang namanya nikel untuk lithium battery. Inilah juga riset yang terus kita lakukan agar nanti yang namanya lithium battery kita harapkan dalam 2-3 tahun ini akan ketemu yang harganya memiliki tingkat keekonomian yang bisa diterima oleh pasar.”

Jokowi yakin ekspor bahan mentah satu per satu akan kita setop. Mungkin tahun depan bauksit setop, tahun depannya lagi mungkin timah setop, tahun depannya lagi mungkin batu bara setop, tahun depannya lagi mungkin kopra setop. “Ingat kopra, minyak kelapa itu bisa dijadikan avtur. Ini sudah hampir ketemu, hampir ketemu. Kalau ini ketemu lagi artinya sudah, semua pesawat akan kita ganti dengan minyak dari kelapa yang dihasilkan oleh rakyat kita, Indonesia.”

Baca Juga :   Parlemen Norwegia Usulkan Larangan Biofuel Sawit

Kalangan petani sawit mendukung kebijakan Jokowi untuk meningkatkan konsumsi domestik. Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO menyebutkan produksi CPO tahun 2018 berjumlah 43 juta ton dengan ekspor 34,71 juta ton. Dari sini dapat kita ketahui bahwa konsumsi domestik sekira 30%. Kondisi inilah yang membuat negara importir CPO ‘manja’.

“Dengan B30 maka konsumsi CPO dalam negeri akan semakin tinggi yaitu bertambah 4 juta ton atau secara total B30 akan menyerap 11 juta ton per tahun bahkan akan semakin meningkat dengan suksesnya peluncuran B30 oleh Presiden Jokowi, apalagi kuatnya trend peralihan dari batubara ke biodiesel,” katanya.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 99)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like