Kao, Apical, dan Asian Agri Meluncurkan Program ‘SMILE’

Tiga perusahaan terkemuka dalam industri kelapa sawit – Kao Corporation, Apical Group, dan Asian Agri – meluncurkan inisiatif baru di bidang keberlanjutan untuk membantu petani swadaya kelapa sawit di Indonesia dalam meningkatkan produktivitas, memperoleh sertifikasi internasional, dan mendapatkan premi dari penjualan minyak sawit yang bersertifikat.

SMILE atau Smallholder Inclusion for Better Livelihood & Empowerment adalah program kolaborasi antara Kao corporation (CEO: Michitaka Sawada) sebagai produsen hilir, Apical Group (Presiden: Datao’ Yeo How) sebagai midstream processor, eksportir, dan trader, dan Asian Agri (Managing
Director: Kelvin Tio) sebagai produsen hulu.

Inisiatif yang akanberlangsung selama 11 tahun ini berupaya untuk membangun rantai nilai minyaksawit yang lebih berkelanjutan melalui kerja sama dengan petani swadaya. Hal ini didukung oleh
petani swadaya yang telah berkontribusi di atas 28% dari keseluruhan pasar minyak sawit di Indonesia*1.
*1 BPS (Badan Pusat Statistik Indonesia), 2018 (Hanya untuk produksi CPO)

Kolaborasi ini dibentuk setelah melihat adanya kendala yang dialami petani swadaya sebagai pengusaha swasta dalam meningkatkan produktivitas kebun mereka akibat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan teknis.

Sebagai minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia, minyak sawit memiliki berbagai jenis kegunaan seperti untuk makanan olahan, minyak goreng, bahan baku biodiesel, dan bahan baku pembuatan deterjen. Keragaman fungsi ini membuat produksi minyak sawit global dapat mencapai 75 juta ton per tahun*2 dan diprediksi akan mencapai 111.3 juta ton di tahun 2025*3. Oleh karena itu, saat ini, Indonesia memberi fokus yang lebih besar dalam meningkatkan produktivitas minyak sawit dengan meminimalisir kebutuhan ekstensifikasi lahan pertanian yang ada. Hal ini tidak hanya membantu menjaga ketahanan pangan tetapi juga menyeimbangkan kebutuhan sosial, lingkungan, dan ekonomi.
*2 USDA FAO, https://ipad.fas.usda.gov/cropexplorer/cropview/commodityView.aspx cropid=4243000&sel_year=2020
*3 Research And Markets,  https://www.prnewswire.com/news-releases/global-palm-oil-market-set-to-reach-a-volume-of-111-3m-tons-by-the-end-of-2025—
analysis-of-the-key-growth-drivers-and-challenges-300976890.html

Kao Corporation, Apical Group, dan Asian Agri melaksanakan aktivitas sesuai dengan kerangka kerja yang disediakan oleh RSPO dan memastikan penelusuran hingga ke perkebunan kelapa sawit untuk membangun rantai pasokan yang ramah secara lingkungan dan sosial. Di saat industri kelapa sawit telah bergerak maju dengan skema sertifikasi nasional seperti ISPO dan internasional seperti RSPO,
sertifikasi untuk petani swadaya baru mencapai momentum. Oleh karena itu, SMILE hadir untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan petani swadaya melalui kemitraan dan pemanfaatan pengalaman dan keberhasilan Asian Agri yang telah membangun kemitraan jangka panjang bersama petani swadaya.

SMILE akan mengerahkan tim ahli yang berpengalaman luas di bidang manajemen perkebunan dan agronomi untuk bekerja dengan 5.000 petani swadaya yang mengelola 18.000 hektar perkebunan di Provinsi Sumatera Utara, Riau dan Jambi. Melalui berbagai seminar dan lokakarya yang dirancang khusus, tim SMILE akan:
● Mengedukasi petani tentang cara meningkatkan produktivitas, mengelola perkebunan
secara berkelanjutan, dan pentingnya untuk tetap berkomitmen pada praktik-praktik
berkelanjutan seperti nol-deforestasi, kebijakan tanpa bakar, dan nol-eksploitasi;
● Memberikan bantuan untuk sertifikasi RSPO;
● Memberikan pelatihan tentang cara menerapkan langkah-langkah keamanan di perkebunan dan peralatan keamanan (termasuk helm pengaman, sarung tangan, dan alat pemadam kebakaran).

Baca Juga :   Kontribusi Ekspor Hilir Sawit Capai 70%

Peningkatan dan penyediaan peralatan ini akan dilaksanakan dari tahun 2020 hingga 2030 dengan tujuan membantu petani swadaya memperoleh sertifikasi RSPO di tahun 2030. Setelah disertifikasi, petani akan memenuhi syarat untuk menerima premium minyak sawit bersertifikat dengan ratarata 5% lebih tinggi dibandingkan minyak sawit yang tidak bersertifikat. Sebagai bagian dari persyaratan RSPO dan komitmen perusahaan dalam membantu masyarakat mewujudkan UN Sustainable Development Goals (SDGs), SMILE mengikutsertakan inisiatif yang mempromosikan
inklusivitas dan peningkatan mata pencaharian melalui pemberdayaan masyarakat.

Pencapaian tujuan peningkatan mata pencaharian petani swadaya ini akan dilakukan melalui peningkatan produktivas dengan nol-deforestasi, nol-lahan gambut, dan nol-eksploitasi. Selama pelaksanaan SMILE, ketiga perusahaan akan secara rutin melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti LSM, NPOs, dan tokoh masyarakat untuk memastikan pelatihan yang kompeten, alokasi peralatan yang memadai, dan penyaluran kebutuhan yang tepat waktu di tingkat  perkebunan dan masyarakat, serta optimalisasi kolaborasi dalam membangun rantai pasok yang
berkelanjutan dan dapat dilacak.

Tentang Kao

Kao menciptakan produk bernilai tinggi yang memperkaya kehidupan konsumen di seluruh dunia. Melalui portfolio lebih dari 20 merek terkemuka seperti Attack, Bioré, Goldwell, Jergens, John Frieda, Kanebo, Laurier, Merries and Molton Brown, Kao merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Asia, Oceania, Amerika Utara dan Eropa. Bersama dengan divisi kimianya yang berkontribusi di berbagai industri, Kao menghasilkan sekitar 1.500 juta Yen dalam penjualan tahunan. Kao mempekerjakan sekitar 33.000 orang di dunia dan telah memiliki 130 tahun sejarah dalam inovasi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi webiste Kao: https://www.kao.com/global/en/

Kao Group dan Insiatif ESG

Menyadari tanggung jawabnya sebagai perusahaan yang menyediakan produk kebutuhan sehari-hari, Kao Group mengambil langkah aktif untuk mengurangi dampak lingkungan di sepanjang siklus hidup produknya. Kao Group telah
menerima evaluasi dari berbagai organisasi eksternal seperti “Dow Jones Sustainability World Index” (DJSI World) – yang dikembangkan oleh S &P Dow Jones di Amerika Serikat dan Robeco SAM di Swiss, sebuah organisasi yang memilih
perusahaan dengan perfoma keberlanjutan terbaik. Pada April 2019, Kao meluncurkan Kirei Lifestyle Plan, sebagai strategi ESG, yang mengabungkan 19 tindakan kempemimpinan. Dengan mengintegrasikan ESG ke dalam inti
manajemen di perusahaan, Kao mendorong pertumbuhan bisnis dan melayani konsumen serta masyarakat dengan lebih baik melalui peningkatan layanan dan produk. Proyek khusus ini merupakan bagian dari Responsibly Sourced Raw
Materials Action, salah satu dari 19 tindakan kepemimpinan utama Kirei Lifestyle Plan.

Baca Juga :   Pembayaran Subsidi Biodiesel Tertunda

Terkait dengan minyak kelapa sawit yang merupakan kategori bahan baku dengan dampak lingkungan terbesar di siklus kehidupan produk, Kao mengembangkan panduan pembelian minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Selain
menunjukkan dukungan untuk nol-deforestasi, Kao juga mempromosikan pembelian berkelanjutan yang mempertimbangkan isu etika dan menerapkan keterlacakan yang efektif. Sejak tahun 2007, Kao merupakan anggota RSPO dan telah menyelesaikan akuisisi sertifikasi SCCS untuk seluruh pabrik Kao di tahun 2018. Kao juga menjadi salah satu direktur dari Japan Network for Sustainable Palm Oil (JaSPON) yang didirikan pada tahun 2019.

Pada program SMILE, Kao juga akan memberikan bimbingan teknis tentang cara menggunakan produk secara efektif bersama dengan Apical dan Asian Agri. Kao berkolaborasi bersama LSM dan NPOs lokal untuk melaksanakan survei
melalui kuesioner dan analisis mengenai efektivitas bantuan yang diberikan dalam meningkatkan produktivitas dan lingkungan kerja petani, serta area lain yang perlu ditingkatkan lebih lanjut.

■Kao > Sustainability > Responsibly Sourced Raw Materials
https://www.kao.com/global/en/sustainability/topics-you-care-about/procurement/
■Kao launches new ESG Strategy “Kirei Lifestyle Plan” to support consumer lifestyle changes
https://www.kao.com/global/en/news/sustainability/2019/20190422-001/

Tentang Apical

Apical Group adalah salah satu pengekspor minyak sawit terbesar di Indonesia, yang memiliki dan mengendalikan spektrum rantai bisnis minyak sawit dari sumber hingga distribusi. Apical juga terlibat dalam proses pemurnian, pemrosesan, dan perdagangan minyak sawit baik untuk pasar domestik maupun ekspor internasional. Kegiatan operasionalnya berlokasi di Indonesia, China, dan Spanyol yang mencakup 5 kilang, 3 pabrik biodiesel, pabrik kimia oleo, dan pabrik penghancur kernel.

Bisnis Apical dibangun dari jaringan sumber yang luas di Indonesia dengan aset kilang yang terintegrasi di lokasi-lokasi strategis. Hal ini diperkuat oleh saluran logistik yang efisien didukung oleh infrastruktur Apical untuk pengiriman ke
berbagai klien dari pembeli lokal hingga internasional. Dengan model bisnisnya yang unik, Apical mampu mengontrol kualitas produk dan mengatasi masalah keberlanjutan serta keamanan pangan selagi menjalankan kegiatan operasional
yang efisien di kilang kelas dunia dengan fasilitas penyimpanan dan bulking terintegrasi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi website Apical: https://www.apicalgroup.com/

Kebijakan Keberlanjutan Apical Group

Sejak peluncuran kebijakan keberlanjutan Apical di tahun 2014, Apical telah mencetak kemajuan pada perjalanan transformasinya dengan mengadopsi standar global dan praktik terbaik dalam kegiatan operasional, anak perusahaan,
dan kemitraan dengan pemasok.

Sejak tahun 2010, Kilang Apical telah disertifikasi oleh International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Apical merupakan anggota dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak tahun 2010. Apical juga telah mencapai
penelusuran penuh ke pabrik di tahun 2015 dan menargetkan penelusuran penuh ke perkebunan di tahun 2020.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian XCXXXII)

Apical Group secara aktif mempromosikan perlindungan kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (HVC), area Stok Karbon Tinggi (HCS), lahan gambut, dan menuju perkembangan sosial ekonomi yang positif. Apical Group bekerja sama
dengan Earthworm Foundation, Proforest, dan Daemeter untuk mengintegrasikan transformasi rantai pasok, memastikan sumber yang bertanggungjawab, dan meningkatkan rantai pasok yang bekelanjutan. Sejak 2017, Apical telah menjadi mitra dari Tropical Forest Alliance 2020 (TFA 2020), sebuah lembaga kemitraan publik-swasta yang mempertemukan pemerintah, sektor privat, dan organisasi masyarakat sipil untuk mengurangi deforestasi yang diasosiasikan dengan sumber komoditas seperti minyak sawit, daging, kedelai, pulp, dan kertas.

Apical berkomitmen untuk pada sumber dan pengelolaan yang berkelanjutan sebagai dasar fundamental dari bisnisnya dalam menghasilkan produk bernilai tinggi untuk permintaan pasar global saat ini.

Tentang Asian Agri

Asian Agri adalah salah satu produsen minyak sawit terbesar di Indonesia. Didirikan pada 1979, perusahaan saat ini mengelola 100.000 hektar lahan perkebunan inti dan mempekerjakan lebih dari 25.000 orang. Sebagai pelopor program Perkebunan Inti Rakyat (PIR-Trans) yang digagas Pemerintah Indonesia, Asian Agri saat ini bekerja sama dengan 30.000 petani plasma di Riau dan Jambi yang mengelola 60.000 hektar perkebunan kelapa sawit petani plasma, dan bersama dengan petani swadaya mengelola lebih dari 41.000 hektar untuk meningkatkan kehidupan para petani.

Menerapkan kebijakan “tanpa bakar” yang ketat sejak 1994 dan praktik terbaik dalam pengelolaan perkebunan berkelanjutan, Asian Agri telah membantu mitra petaninya meningkatkan produktivitas, hasil panen, dan mengawasi rantai pasokan, sambil membantu mereka memperoleh sertifikasi. Asian Agri juga mengoperasikan pabrik berteknologi tinggi dan memanfaatkan energi secara efisien dan optimal, yang juga meminimalkan efek dari emisi gas rumah kaca.

Asian Agri (PT Inti Indosawit Subur) adalah anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak 2006. Lebih dari 86% perkebunan yang dimilikinya di Provinsi Sumatera Utara, Riau dan Jambi, dan 100% perkebunan petani plasma
mitra di Riau and Jambi telah bersertifikat RSPO. Semua perkebunan yang dimiliki perusahaan maupun milik petani plasma mitra Asian Agri telah bersertifikat ISCC (International Sustainability & Carbon Certification) sejak 2014. Pada tahun 2019, perusahaan juga mendapatkan sertifikasi 100% ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Kegiatan operasional perusahaan juga bersertifikasi ISO 14001, sedangkan Learning Institute dan Pusat Pembibitan Asian Agri di Riau, Indonesia, keduanya bersertifikat ISO 9001. Laboratorium Asian Agri di Pusat Penelitian dan Pengembangan di Tebing Tinggi diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional di bawah ILAC Mutual Recognition Arrangement (ILAC MRA).

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like