Kampanye Hitam Sawit Perlemah SDG’s Indonesia

Kampanye hitam semakin gencar ditujukan kepada industri sawit. Kendati, industri kelapa sawit mampu memenuhi prinsip Sustainable Development Goals (SDG’s). Dengan menekan sawit artinya dapat melemahkan implementasi SDG’s di Indonesia.

“Jadi (kampanye hitam) tidak sesuai dengan SDGs yang menjadi komitmen global, terutama di negara berkembang. Kampanye ini dilakukan orang-orang yang idealis menyaanti-pertanian, anti-industri, anti-energi,” ujar Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri RI.

Dalam sebuah diskusi, Mahendra pernah menyatakan perlu kajian komparatif mengenai perkembangan pemenuhan target Sustainable Development Goals (SDGs) oleh minyak nabati, tak hanya oleh minyak kelapa sawit.

Langkah ini sangatlah penting mengingat minyak kelapa sawit seringkali mendapat sorotan negatif. Pada hal sesungguhnya sawit mampu berkontribusi lebih banyak dalam pemenuhan SDGs dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

“Kalau hanya sawit yang bergerak dan yang lain tidak maka dengan sendirinya terjadi diskriminasi terhadap sawit,” ujar Mahendra.

Hasil kajian Kementerian Luar Negeri RI bahwa minyak nabati dikaitkan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) menggunakan computable equilibrium model (CGEs) dalam aplikasi Global Trade Analysis Project (GTAP). Kajian menyimpulkan bahwa minyak sawit terbukti lebih efisien dalam penggunaan lahan dan hasil panen dibandingkan minyak nabati lain, seperti canola/rapeseed, biji bunga matahari, biji jagung, dan biji kedelai. Dari sisi lingkungan, minyak sawit juga terbukti efisien karena paling minim dalam penggunaan pestisida yang merusak lingkungan, bahkan minyak sawit Indoensia juga memenuhi 12 dari 17 SDGs.

Disamping keunggulan-keunggulan minyak nabati sawit tersebut, dari aspek sosial, sektor industri sawit di Indonesia telah membuka lapangan pekerjaan baru dan berperan untuk meningkatkan taraf hidup para petani kelapa sawit.

Hasil kajian juga merekomendasikan agar dibentuk pendekatan strategic communication yang holistik untuk memerangi kampanye hitam melawan minyak kelapa sawit dengan mempertimbangkan profil, demografi, dan persepsi publik dari masing-masing negara sasaran. Diplomasi sawit perlu diterapkan untuk membuka dan menjamin akses pasar bagi minyak kelapa sawit Indonesia, dengan melakukan pendekatan diplomasi ke negara-negara tujuan utama ekspor minyak kelapa sawit, seperti India dan Tiongkok.

Dari Kajian PASPI Monitor berdasarkan penelitian/studi empiris, industri kelapa sawit telah berkontribusi pada pencapaian 16 tujuan dari 17 tujuan SDGs. Pada aspek ekonomi, industri perkebunan kelapa sawit telah mencapai SDG-1 (menghapus kemiskinan); SDG-2 (menghapus kelaparan, kekurangan gizi dan membangun ketahanan pangan inklusif); SDG-7 (membangun energi yang berkelanjutan); SDG-8 (pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang inklusif); SDG-9 (infrastruktur dan industrialisasi dan inovasi); SDG-10 (pengurangan ketimpangan); dan SDG-12 (konsumsi dan produksi yang berkelanjutan).

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 109)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like