Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong terlihat masih sangat fasih layaknya dosen saat ia memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah (10/3/2022). Dunia akademis perguruan tinggi bukan sesuatu yang baru bagi Wamen Alue Dohong. Dirinya pernah aktif menjadi salah satu dosen pengajar di Kalimantan Tengah.

Wamen Alue Dohong mengawali kuliahnya siang itu dengan menegaskan bahwa paradigma pengelolaan hutan di Indonesia telah berubah menjadi Landscape Forest Management. Pengelolaan hutan harus melihat semua hal, termasuk para pemangku kepentingan seperti masyarakat beserta aspek lingkungan di sekitarnya.

“Paradigma sekarang adalah Landscape Forest Management yang tidak lagi terkotak-kotak pengelolaannya. Kalau zaman dulu dalam pengelolaan hutan, masyarakat harus dikeluarkan dari kawasan hutan, namun sekarang adalah melihat semua dalam suatu lansekap yang harus diperhatikan dan diberdayakan,” ungkap Wamen Alue Dohong.

Salah satu contohnya, sebagaimana yang disampaikan Wamen Alue Dohong sebelumnya di wisata alam Danau Tambing, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (9/3/2022), bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan akan menjadi pagar sosial yang turut menjaga kelestariannya.

“Pagar sosial itu sangat penting, dan kita harus bangun itu membuat masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan, pemanfaatan dan sebagainya, pemberdayaan ini akan membuat kawasan hutan kita tetap terjaga,” ungkap Wamen Alue Dohong.

Potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan salah satunya melalui pemanfaatan jasa lingkungan seperti ekowisata. Wamen Alue Dohong memprediksi kedepannya, bahwa pola masyarakat umum dalam gaya hidup berwisata adalah kembali ke alam.

Di sekitar kawasan hutan konservasi seperti taman nasional, terdapat spot wisata alam yang dapat digunakan sebagai forest healing tourism. Adanya lokasi wisata alam tersebut, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

“Masyarakat di sekitar lokasi wisata alam dapat dilatih dan diberdayakan seperti menjadi pemandu wisata, juga mengelola homestay untuk pengunjung, jadi masyarakat harus merasakan manfaat dari adanya TN dan wisata alam,” terang Wamen Alue Dohong.

Pengelolaan hutan dengan prinsip Landscape Forest Management memerlukan sinergi lintas batas dengan berbagai pihak atau kolaborasi pentahelix. Wamen Alue Dohong menegaskan bahwa kolaborasi pentahelix memerlukan multi level leadership pada beberapa pihak seperti pemerintah, baik pusat maupun daerah, kemudian masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media.

Kemudian di hadapan para akademisi, Wamen Alue Dohong juga menyampaikan kebijakan KLHK terkait pengendalian perubahan iklim yang berasal dari sektor kehutanan yaitu FoLU Net Sink 2030. Sektor kehutanan merupakan selah satu sektor yang berkontribusi besar dalam penurunan emisi GRK yaitu sebesar 17,2 persen. Melalui kebijakan FOLU NET SINK 2030, sektor kehutanan akan mempercepat target pengurangan emisinya sesuai dengan NDC Indonesia yang telah diperbarui.

Capaian Folu Net Sink by 2030 ditentukan oleh beberapa hal yaitu: (1) Pengurangan emisi dari deforestasi dan lahan gambut seperti dekomposisi gambut dan kebakaran gambut; (2) Peningkatan kapasitas hutan alam dalam penyerapan karbon melalui pengurangan degradasi dan meningkatkan regenerasi;(3) Pengelolaan hutan lestari; (4) Optimasi lahan tidak produktif untuk pembangunan hutan tanaman dan tanaman perkebunan; (5) Restorasi dan perbaikan tata air gambut; dan
(6) Restorasi dan rehabilitasi hutan dengan pengayaan tanaman/peningkatan serapan karbon.

Rektor Universitas Tadulako, Prof. Mahfudz dalam sambutannya menyampaikan bahwa, pihaknya siap untuk melestarikan hutan, khususnya di Sulawesi Tengah.

Kolaborasi KLHK dengan dunia akademisi, seperti di Universitas Tadulako diwujudkan dalam bentuk pembangunan Persemaian Permanen di dalam wilayah kampus. Persemaian Permanen ini kemudian dikelola oleh Balai Pengelolaan DAS Palu Poso.

Terkait dengan Persemaian Permanen di dalam Universitas Tadulako, Prof. Mahfudz menyampaikan bahwa pihaknya tidak mencari keuntungan materi melainkan membutuhkan manfaat dari persemaian tersebut. Dirinya mengungkapkan bahwa di persemaian permanen, para civitas akademika akan dapat melakukan penelitian dan praktek, serta menjadikannya sebagai ikon universitas layaknya laboratorium.

“Kami siap memfasilitasi persemaian permanen di Universitas Tadulako,” ungkap Prof. Mahfudz.

Beberapa mahasiswa Universitas Tadulako  telah memanfaatkan persemaian untuk melaksanakan penelitian. Riawati misalnya, mahasiswa Fakultas Kehutanan ini melakukan penelitian terkait pengaruh pupuk kandang untuk penyemaian gaharu.

Sumber: menlhk.go.id

Share.