“Penurunan produksi akan terjadi hampir merata dan diprediksi berlangsung hingga April 2021,” ujar syaiful.
Meski demikian, produksi di beberapa lokasi mungkin berbeda tergantung dari kondisi agronomi di masing-masing daerah. Bagi daerah tertentu yang curah hujan cukup tinggi tetapi jumlah hari hujannya masih ideal, justru kondisi La Nina berdampak positif terhadap peningkatan produksi TBS pada paruh pertama tahun ini.
Dia menjelaskan, dampak negatif La Nina lainnya adalah meningkatkan terjadinya pembilasan nutrisi yang tinggi dalam tanah, terutama hara fosfat (P) akan banyak tercuci dan hilang, karena nutrisi P secara relatif berada di lapisan atas bersama bahan organik dan sifatnya tidak mobil dalam tanah. Meski demikian, La Nina juga memiliki dampak positif, yaitu menjamin ketersediaan air tanah yang mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman secara umum. Selain itu, bagi areal perkebunan kelapa sawit yang ditanam di tanah sulfat masam, curah hujan yang tinggi membantu menekan kandungan sulfidik (pirit) ke lapisan lebih dalam sehingga zona kedalaman efektif perakaran jadi lebih ideal dan tidak meracuni tanaman. La Nina juga bermanfaat bagi areal pertanian baru di daerah bergaram (saline), yang membantu menghilangkan residu garam sehingga tanah tersebut dapat diusahakan untuk pertanian.
Syaiful menambahkan, selama pendampingan, pihaknya telah memberikan sejumlah saran bagi petani kelapa sawit dalam menghadapi dampak La Nina, yaitu mempersiapkan parit-parit drainase dengan baik, serta melakukan sanitasi kebun dengan membersihkan semak belukar sehingga tidak menimbulkan kelembaban yang tinggi, yang dapat menyebabkan tingginya serangan hama penggerek tandan sawit (Tirathaba sp), serta penyakit busuk tandan (Marasmius palmivorus). “Hal yang paling penting dalam pendampingan ini adalah penggunaan pupuk sebaiknya dilakukan dengan konsep keseimbangan nutrisi di lapangan,” kata dia.

