Kala Banjir Dijadikan Bahan Kampanye Negatif

Bencana banjir di Kalimantan menjadi pintu masuk LSM untuk menyerang sawit. Pemerintah sepakat penyebab banjir perlu dikaji mendalam.

Setelah 10 hari, hujan non stop terjadi di Kalimantan Selatan. Wal hasil, banjir bandang melanda wilayah Bumi Lambung Mangkurat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan sebanyak 7 Kabupaten/Kota terdampak banjir antara lain Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong. Dampaknya adalah 27.111 rumah terendam banjir dan 112.709 warga mengungsi.

Di kala warga sedang berjibaku mengungsi. Sementara pemerintah berupaya menangani korban dan pengungsi. Statement Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), LSM lingkungan hidup, disayangkan banyak pihak. Salah satunya tuduhan bahwa perkebunan sawit memicu banjir.

Samsul Bahri, petani sawit di Pelaihari, merasa geram dengan tuduhan Walhi. Pasalnya, banyak pakar dan pemerintah sepakat bahwa banjir di Kalimantan Selatan dari tingginya curah hujan selama seminggu terakhir.

“Walhi seenaknya tuduh kebun sawit penyebab banjir. Salah besar itu, tidak benar. Asal bicara saja (Walhi),” ujar Samsul Bahri, petani sawit yang tinggal di Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Samsul menjelaskan selama hidup di Bumi Lambung Mangkurat baru kali ini banjir besar terjadi. Selama seminggu, curah hujan sangat tinggi. Ditambah lagi, sungai menjadi dangkal akibat praktik pertambangan. Kondisi inilah yang membuat air meluap. Sungai tidak dapat menampung tingginya debit air.

Pemerintah seperti dilansir dari laman setkab.go.id, menjelaskan bahwa Banjir di Provinsi Kalimantan Selatan kali ini terjadi di hampir 10 kabupaten dan kota akibat luapan Sungai Barito karena curah hujan yang yang sangat tinggi selama hampir 10 hari berturut-turut. Sungai tersebut dapat menampung 230 juta meter kubik, namun akibat curah hujan yang tinggi ini jumlah debit air yang masuk mencapai 2,1 miliar meter kubik sehingga tidak tertampung dan meluap di 10 kabupaten dan kota.

Sementara itu, Dr.Ir. Arief Rahmad Maulana Akbar, M.Si., Wakil Dekan Akademik Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) menyatakan  tuduhan bahwa sawit penyebab banjir di Kalsel tidak mendasar karena lokasi banjir awal di daerah Pengaron, Kabupaten Banjar yang  paling awal terendam hampir sebulan.

Tetapi di daerah Pengaron, kata Arief, tidak ada kawasan sawit di sana justru area bekas tambang yang menyisakan danau-danau tanpa penghuni. Selain itu, area banjir besar di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Selatan berdampingan dengan tambang PT Adaro dan hingga sekarang  tidak ada perkebunan sawit di wilayah tersebut.

“Banjir besar tahun ini memang pemicunya  curah hujan tinggi. Selama empat hari, hujan berlangsung  nonstop. Ini baru seumur hidup terjadi tidak pernah mengalami seperti ini,” cerita Arief.

Merujuk keterangan terulis dari badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dilansir hari Senin (18 Januari 2021), curah hujan dengan intensitas tinggi tercatat di StasiunMeteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin pada tanggal 10 Januari 2021 sebesar 125 mm, tanggal 11 Januari 2021 sebesar 30 mm, tanggal 12 Januari 2021 sebesar 35 mm, tanggal 13 Januari 2021 sebesar 51 mm, tanggal 14 Januari 2021 sebesar 249 mm dan tanggal 15 Januari 2021 sebesar 131 mm.

(Selengkapnya dapat di baca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 111)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like