Kado HUT ke-76 RI, Harga TBS Petani Tertinggi Sepanjang Sejarah

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Petani sawit mendapatkan kado terindah sepanjang sejarah Republik Indonesia berdiri. Sampai pertengahan tahun ini, harga TBS terus bertengger tinggi yang berdampak positif bagi kesejahteraan petani. Laporan dari anggota DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) di 22 provinsi dan 136 kabupaten menunjukkan tren positif harga TBS sawit.

“Ini kado terindah bagi petani sawit di Indonesia. Sepanjang republik ini berdiri, baru tahun ini petani menikmati manisnya harga TBS,” ujar Dr (cn) Ir Gulat Manurung, MP.C.APO, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), di sela-sela upacara HUT ke-76 RI, Selasa (17 Agustus 2021).

Di sejumlah provinsi yang biasanya menerima Harga TBS di bawah Rp 1.000/kg. Lain cerita di tahun ini. Sebagai contoh Banten, harga TBS menembus angka Rp 1.800/kg periode 16-22 Agustus 2021.”Padahal, tahun lalu saja harga TBS diterima petani hanya Rp 600 per kilogram. Kami bersyukur tahun ini dapat harga bagus,” ujarnya.

Di Kalimantan Selatan, petani juga mendapatkan berkah tingginya harga TBS. Per 16 Agustus kemarin, harga TBS ditetapkan provinsi sebesar Rp2.100/kg. Samsul Bahri, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Selatan, mengatakan harga di pabrik bisa lebih tinggi daripada keputusan provinsi.

“Di pabrik, harga pembelian bisa mencapai Rp2.350 sampai Rp2.400 per kilogram. Luar biasa, harga TBS di tahun ini,” jelasnya.

Cerita serupa datang dari Indra Rustandi, petani sawit asal Kalimantan Barat. Ia mengirimkan data penetapan harga TBS provinsi yang menunjukkan kenaikan. Sampai periode I Agustus ini, harga tertinggi mencapai Rp2.542/kg.

“Para petani menyambut baik melesatnya harga TBS di tahun ini,” ujar Indra yang juga Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Barat.
Di Jambi, harga TBS petani menyentuh angka Rp2.620/kg periode 13-19 Agustus 2021. Di periode sama tahun lalu, harga TBS bertengger di angka Rp 1.870/kg. Di Riau, harga TBS cetak rekor mencapai Rp2.730/kg.

Sementara itu, harga TBS periode 11-17 Agustus di Sumatera Utara mencapai Rp2.769/kg. Di Sumatera Selatan, harga TBS penetapan provinsi naik menjadi Rp 2.498,03/Kg periode pertama Agustus.

Di Sulawesi Tengah, Siswanto Ketua DPW APKASINDO, mengucapkan syukur luar biasa dengan pergerakan harga TBS saat ini. Pada Agustus, harga TBS dapat mencapai Rp2.345/kg. Sedangkan di tahun lalu, harga TBS di provinsinya masih di bawah Rp1.500.kg

“Harga sangat bagus sekarang dan petani sawit dengan lahan 10 hektar ke atas terancam akan jadi orang kaya,” cerita Siswanto sambil tertawa senang.

KH Suher, Ketua DPW APKASINDO Riau, menganalisis bahw tingginya harga TBS di Riau sebesar Rp2.780 per kilogram dan Sumatera Utara tidak terlepas dari Penerapan Pergub Tataniaga TBS. Aturan ini diramu bersama antara lain Disbun, APKASINDO, GAPKI, dan ASPEK PIR.

Senyum anak-anak petani sawit yang melanjutkan pendidikan.

“Memang baru disaahkan Gubernur Riau, Pak Syamsuar di awal 2021. Harus diakui, Pergub Riau ini menjadi pergub hybrid karena perpaduan dari Pergub TBS yang sudah terlebih dahulu terbit sebelumnya di provinsi lain, ” ujar Suher.

Gulat Manurung mengatakan tidak terkejut dengan tingginya harga TBS sampai Agustus ini. Walaupun ada kekhawatiran, harga CPO di pasar global bakalan melandai setelah pemerintah Indonesia menyesuaikan pungutan ekspor.

“Akan tetapi, penyesuaian tarif pungutan ekspor malahan berdampak positif kepada harga. Saya optimis tahun ini bisa tembus angka Rp3000 per kilogram, ” jelas auditor ISPO ini.

Selain itu, Gulat menilai bahwa kebijakan pemerintah terkait petani kelapa sawit sangat tepat dan jitu. Pertama, disahkannya UU Cipta Kerja menjadi gerbang hijau untuk keberlanjutan sawit Indonesia.

Kedua, kebijakan pungutan ekspor yang disesuaikan dalam PMK 76/2021. Aturan ini dinilai mampu menyeimbangkan antara industri hulu dan hilir kelapa sawit.

Ketiga, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) mampu mendorong petani untuk meremajakan tanaman usia bertua.

Keempat, mandatori biodiesel melalui campuran 30% atau B30 dapat meningkatkan konsumsi sawit di dalam negeri. alhasil, Indonesia tidak lagi bergantung kepada negara lain untuk menjual CPO.

Kelima, peningkatan SDM Petani melalui dana BPDPKS telah semakin merubah mindset kami menuju GAP.

Gulat berharap di HUT ke-77 RI di tahun depan, BPDPKS memberikan “kado” kepada Petani Sawit, yaitu dukungan berdirinya 7 pabrik sawit di 7 Provinsi dibawah manajemen Koperasi Setara APKASINDO. Berdirinya pabrik sawit adalah bentuk nyata buku dari Prof Agus Pakpahan ‘Kemerdekaan bagi Petani adalah kemerdekaan untuk semua’. MERDEKA.

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like