ITS dan Bhanda Gara Reksa Teliti Pengembangan Minyak Jelantah Untuk Biodiesel

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT Bhanda Ghara Reksa menindaklanjuti nota kesepahaman berupa penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait teaching factory pengelolaan minyak jelantah dengan menggunakan Integrated Biodiesel Laboratory.

Direktur Utama PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) M Kuncoro Wibowo menyatakan, perusahaan yang banyak bergerak di bidang logistik ini menginginkan suatu inovasi dalam hal daur ulang. Membagikan sudut pandangnya, pengelolaan limbah merupakan salah satu sektor yang perlu diperhatikan. “Kondisi ini apabila diperhatikan dengan serius, akan menghasilkan peluang yang menjanjikan,” ungkapnya seperti dilansir dari laman ITS, Senin (28 Juni 2021).

Di samping itu, lanjutnya, PT BGR telah mempertimbangkan mengenai kebutuhan bahan bakar yang sangat tinggi, terlebih dalam lingkup perusahaannya sendiri. Salah satunya adalah bahan bakar yang dibutuhkan oleh 1.500 armada truk yang dimiliki. “Kami yakin kebutuhan bahan bakar di Indonesia sangat tinggi, dan dibutuhkan alternatif bahan bakar pengganti,” paparnya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menyatakan, kerja sama ini menjadi tonggak sejarah baru untuk mengembangkan suatu teaching factory. Bentuk kerja sama ini akan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, kampus, revenue, pengembangan, hingga kolaborasi baik dengan kementerian dan instansi lainnya.

Wakil Rektor IV Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, program kerja sama ini merupakan mini plan terhadap sarana pembelajaran dan penelitian. Yakni dalam pengelolaan hingga produksi bahan bakar nabati biodiesel dan gliserin dengan bahan baku minyak jelantah. “Minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang banyak diproduksi terlebih dari industri pangan,” tutur dosen Departemen Teknik Mesin ini.

Menurut Bambang, proses pelaksanaan akan dilaksanakan sebanyak dua tahap secara garis besar. Pada tahap pertama akan dilakukan riset pengelolaan yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian akan dilanjutkan dengan proses produksi, utilisasi, hingga komersialisasi. “ITS memperkirakan mampu memproduksi 1.000 liter setiap 5 jam produksi,” tandasnya optimistis.

Untuk rancangan pelaksanaan, proses telah dimatangkan secara paralel, mulai dari detail layouting daerah yang aman untuk menjadi sasaran wilayah hingga penyusunan daftar perawatan. Rencana utama daerah sasaran adalah kawasan Sains Techno Park (STP) ITS pada klaster otomotif.

124 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Ketika Santri Belajar Sawit

Pesantren Syaichona Cholil di Balikpapan memperkenalkan santri untuk budidaya sawit. Bertujuan membangun kemandirian santri supaya lebih produktif di…