Industri Sawit Ciptakan Lapangan Kerja di Eropa

Masyarakat Uni Eropa memperoleh manfaat dari pembukaan lapangan kerja oleh industri sawit.

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pembukaan lapangan kerja oleh industri sawit tidak hanya di dalam negeri. Melainkan juga di negara lain seperti Eropa, India, Pakistan, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Grup sawit besar memiliki jejaring yang tersebar di banyak negara untuk mendukung pemasaran dan penjualan produk sawitnya.

Berdasarkan riset Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) bahwa penciptaan lapangan kerja di industri sawit terus meningkat setiap tahunnya di berbagai negara tujuan ekspor. Pada 2010, tenaga kerja yang terserap sebanyak 1,99 juta orang. Pada 2015, penyerapan tenaga kerja mencapai 2,36 juta orang. Selanjutnya pada 2020, bertambah menjadi 2,73 juta orang.

Di negara tujuan sawit, masih ada yang ekspor CPO dan refined oil. Tungkot penciptaan lapangan kerja oleh industri sawit juga terjadi di negara lain. Karena banyak grup sawit mempunyai fasilitas pengolahan CPO di berbagai negara.

“Pada 2020, pembukaan lapangan kerja sebanyak 2,73 juta orang di negara importir sawit. Ada kesempatan pembukaan lapangan kerja. Dari data PASPI, dari jumlah ini penciptaan lapangan kerja banyak terjadi di India. Termasuk di benua Eropa yang sudah kaya juga. Jadi, kita (industri sawit) bukan hanya ekspor produknya. Melainkan ekspor kesempatan kerja di negara tadi,” ujar Tungkot, dalam webinar yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) bertemakan “Peranan Kelapa Sawit Dalam Pengentasan Kemiskinan dan Mewujudkan Gratieks”, pada Rabu (31 Maret 2021).

Sebagai informasi, kelompok usaha sawit besar seperti Musim Mas, Golden Agri, Wilmar, Sime Darby, KLK, dan Olam memiliki fasilitas pengolahan dan jejaring bisnis di Uni Eropa. Kehadiran fasilitas inilah yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat di negara-negara Eropa.

Dari sisi income generating (penciptaan penghasilan) sebesar US$ 38 miliar atau setara Rp 532 triliun pada 2020 untuk hilirisasi minyak sawit di negara importir. Distribusi pendapatan terjadi di Tiongkok, Uni Eropa, India, Pakistan, dan Afrika.  

“Jadi industri sawit juga membuka kesempatan kerja sangat luas di berbagai negara. Uni Eropa pura-pura tolak sawit. Padahal, penciptaan lapagan kerja terjadi disana. Begitupula dengan penciptaan penghasilan bagi warganya,” ujarnya.

Tungkot menjelaskan Eropa akan rugi sendiri apabila memboikot kelapa sawit. Sebab, masyarakatnya akan kehilangan kesempatan kerja dan pendapatan.

“Kelapa sawit membantu dunia dalam Sustainable Development Goals (SDG) di bidang mengatasi persoalan kemiskinan,” pungkas Tungkot Sipayung.

“Minyak sawit itu dikirim ke seluruh negara di dunia. Jadi, minyak sawit ini memberi makan ke masyarakat dunia. Tidak ada negara di dunia yang tidak mengonsumsi sawit,” ujar Dr. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI.

Tungkot menjelaskan orang miskin di setiap negara importir sawit dapat menikmati minyak nabati yang murah.”Jadi, sawit ini termasuk komoditas affordable price. Orang miskin berpendapatan rendah tetap butuh makanan yang berkualitas. Lalu harganya murah. Minyak sawit inilah yang dapat membantu mereka (masyarakat miskin),” jelas lulusan S3 IPB University ini.

Ia menjelaskan minyak sawit juga meredam kenaikan harga minyak nabati lain. Karena ada negara fanatik terhadap minyak nabati lain seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.”Justru kehadiran minyak sawit dapat mencegah kenaikan harga minyak nabati lain,” ujarnya.

Di Indonesia, perkebunan kelapa sawit mampu membangun daerah miskin dan terbelakang untuk menjadi sentra perekonomian baru di 11 provinsi. Sentra ekonomi baru ini tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Papua dan Papua Barat.

“Kelapa sawit membantu dunia dalam Sustainable Development Goals (SDG) di bidang mengatasi persoalan kemiskinan,” pungkas Tungkot Sipayung.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Vincent Piket, menegaskan tidak ada kebijakan yang bertujuan memboikot kelapa sawit di Uni Eropa. Dengan pertimbangan, Indonesia merupakan mitra strategis bagi Eropa termasuk di dalamnya kerjasama yang berkaitan dengan kelapa sawit.  

“Kami sangat memperhatikan tren deforestasi yang terjadi di dunia. Masyarakat Eropa ingin produk yang dikonsumsinya bersumber dari produk baik dan berkelanjutan,” ujar Piket dalam webinar #INAPalmoil Talkshow bertajuk ‘Strategic Partnership EU-ASEAN dan implikasinya terhadap Industri Minyak Sawit’ yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada Rabu (31/3/2021).

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like