Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian XXVI)

Perkembangan volume konsumsi minyak kedele di Amerika Serikat naik 2 juta ton per satu dekade, selama 1980 hingga 2010. Kemudian, pertumbuhan semaikn cepat, dinama pertambahan 2 juta ton hanya diperlukan dalam 4 tahun. Sementara laju ketersediaan minyak kedele adalah 3% per tahun. Kebutuhan minyak nabati di penuhi dari tiga sumber lainnya, yakni rapeseed oil, minyak sawit dan sunflower oil. Diantara ketiganya, laju pertumbuhan minyak sawit relatif besar yakni 18% per tahun, sementara laju minyak rapeseed dan sunflower oil masing-masing adalah 9% dan 5% per tahun.

Tahun 2014, diperoleh gambaran umum bahwa konsumsi utama minyak nabati di kawasan Asia Timur adalah minyak kedele (68%), dan minyak rapeseed berada pada urutan kedua dengan proporsi 18,5%, sedangkan proporsi minyak sawit dan sunflower oil masing-masing adalah 11,5% dan 1,6%. Pola konsumsi masih tetap didomoinasi minyak kedele, namun perkembangan minyak sawit dan minyak rapeseed juga pesat. Hal ini menunjukan minyak sawit lebih bersifat komplementer , untuk memenuhi permintaan minyak nabati Amerika Serikat.

Uni Eropa. Kawasan Uni Eropa merupakan konsumen utama rapeseed oil. Sunflower oil memiliki proporsi yang dominan sepanjang kurun waktu 1990-2014. Pada tahun 1990, hampir sekitar 85% konsumsi minyak nabati di kawasan Uni Eropa adalah sunflower oil, dan sisanya dipenuhi oleh minyak kedele (14,9%), dan rapeseed oil (0,8%). Sejak tahun 2000 terjadi perubahan pola konsumsi dari sunflower oil ke rapeseed oil dan minyak sawit. Sementara konsumsi minyak kedele cenderung turun sejak tahun 2000.

Sumber : GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like