Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian XCXXXV)

Minyak nabati utama dunia adalah soybean, rapeseed, sunflower, dan minyak sawit. Dalam priode tahun 2000-2013, pergerakan harga CPO konsisten dibawah harga soybean oil, rapeseed oil maupun sunflower oil. Pergerakan harga yang demikian menunjukan bahwa CPO sangat kompetitif baik sebagai subtitut maupun komplemen dalam konsumsi komposit minyak nabati di berbagai negara/kawasan dunia. Secara teori ekonomi (consumsi behaviours) ketersediaan CPO yang lebih murah, dapat mensubtitusi minyak nabati lain yang lebih mahal, sehingga dapat menahan laju kenaikan harga yang lebih tinggi minyak nabati lain.

China dan India merupakan negara dunia yang menikmati hampir 60 persen CPO Indonesia, untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi minyak nabati akibat pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat dalam sepuluh tahun terakhir. Harga CPO dunia yang umumnya lebih murah dari harga minyak kedelai, minyak rapeseed, maupun minyak bunga matahari memberi keuntungan bagi dua negara yang populasi penduduknya hampir 50 persen penduduk dunia.

Bagi negara kawasan Afrika dimana umumnya berpendapatan rendah ketersediaan CPO baik bagi bahan pangan maupun bahan baku industri memberi manfaat bagi rakyat Afrika. Manfaat yang dinikmati selaih harga CPO lebih murah, juga dampak tidak langsung harga CPO terhadap harga minyak nabati lainnya. Minyak sawit sebagai subtitusi dan atau komplemen minyak nabati lain, dapat mencegah kenaikan minyak kedelai yang berlebihan baik karena pertumbuhan konsumsi maupun akibat kekurangan pasokan. Sehingga dengan tingkat pendapatan yang sama, daya beli masyarakat Afrika untuk minyak nabati meningkat.

Sumber : GAPKI

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like