Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian CXCV)

Kebijakan penurunan suku bunga kredit dapat mendorong peningkatan produksi CPO dan industri hilir (minyak goreng sawit) secara serentak (Manurung, 1993; Purba, 2011), demikian juga peningkatan infrastuktur di pertanian/pedesaan juga mendorong perkembangan industri minyak sawit (Joni, 2012). Dan secara keseluruhan peningkatan produksi CPO baik akibat hilirisasi/pengembangan biodisel akan mendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra perkebunan kelapa sawit (PASPI, 2014) dan penurunan kemiskinan (Susila dan Munadi, 2008; Joni et,al. 2012; Rofiq, 2013; PASPI, 2014).

Dengan perkatan lain, kata kunci adalah agar tidak trade-off dengan industri  hilir pengembangan industri biodiesel diperlukan peningkatan, perlu didukung oleh peningkatan produksi CPO yang signifikan dan tidak cukup hanya mengandalkan mekanisme pasar biasa (business as usual).

  1. Kebijakan yang Diperlakukan

Untuk memberikan hilirisasi (industri biodiesel, olein, oleokimia,detergen/sabun, dll) diperlakukan kebijakan dorongan kuat (BIG PUSH) yakni kebijakan peningkatan produksi CPO yang cukup besar (baik melalui peningkatan produktivitas, maupun perluasan kebun). Peningkatan produksi CPO yang besar tersebut memerlukan dukungan kebijakan kepastian, dan kemudahan berusaha pada perkebunan kelapa sawit (Kebijakan tata ruang, pertanahan, penyederhanaan perizinan) yang didukung kebijakan penurunan tingkat suku bunga, peningkatan infrastuktur dan pelabuhan, kebijakan R&D, dan kebijakan perpajakan. Kebijakan bea keluar CPO dan turunannya tidak diperlukan lagi jika kebijakan-kebijakan diatas telah operasional.

Sumber : GAPKI

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like